Sungguh sangat memprihatinkan menonton seorang anggota Dewan yang terhormat dalam Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century yang menampilkan perilaku seorang preman. Sikap dan kata-katanya mengesankan bahwa dia seorang yang sangat arogan. Bagaimanapun, Jusuf Kalla adalah seorang mantan wakil presiden: harus dihormati dan martabatnya dijunjung tinggi.
Mantan wakil presiden hadir bukan untuk dilecehkan, terlebih-lebih di suatu forum yang disaksikan puluhan juta mata melalui televisi. Kekhawatiran saya sejak lama mulai terlihat dengan jelas bahwa moral atau budi pekerti di negeri ini semakin terpupus oleh materialisme.
Sudah saatnya Kementerian Pendidikan Nasional mempertimbangkan kembali memasukkan mata pelajaran Budi Pekerti dalam kurikulum SD dan SLTP. Dengan itu, kita berharap manusia Indonesia yang bermartabat dan mengerti tata krama lahir kembali. Akibat penghilangan mata pelajaran ini secara nyata dapat dilihat pada perilaku warga secara luas: tawuran antar pelajar dan antar mahasiswa terjadi di seantero negeri ini, tak lagi melulu di Jakarta.
Kekerasan di mana-mana: di jalanan, di televisi entah dalam sinetron, entah dalam tayangan bincang-bincang, sampai di rumah tangga. Mudah-mudahan upaya memasukkan mata pelajaran Budi Pekerti ke dalam kurikulum belum terlambat dalam membangun jiwa bangsa ini.
RISNO S SAMSIE
Jakarta
| < Prev | Next > |
|---|





