Korupsi yang berlangsung puluhan tahun dan semakin "berkualitas" serta merambah semua lapisan masyarakat tak mungkin diselesaikan dalam jangka waktu pendek. Korupsi yang sangat kompleks ini tidak mungkin dihenfikan oleh pemerintah saja tanpa dorongan masyarakat.
Pada pemerintahan Bung Karno, Pak Harto, dan seterusnya dibentuk berbagai macam badan, lembaga, atau komisi yang bertujuan sama: memberantas korupsi. Namun, akhirnya secara perlahan tidak terdengar lagi gaungnya. Saat ini lembaga yang ditunjuk memberantas korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), punya strategi yang berbeda dan memperlihatkan pola kerja yang memberi harapan.
Ditunjang semangat menyelenggarakan pemerintahan yang bersih (dari pemerintah) serta dorongan yang hebat (dari masyarakat), kita harapkan korupsi dapat dikikis habis. Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia belum lama ini kita jadikan momen perbaikan. Seyogianya, sebelum aksi turun ke jalan menuntut orang lain berbuat bersih, atau membakar gambar individu yang dituduh melakukan korupsi, mari melihat diri sendiri. Bersihkah kita dari perilaku tidak terpuji itu?
Pertanyaan bagi mahasiswa: tidakkah pernah Anda berbuat curang saat ujian, menjadi plagiat dalam pembuatan tesis? Pertanyaan untuk pegawai negeri: sudahkah Anda terbebas dari menggunakan fasilitas kantor dari yang paling murah, seperti kertas, komputer, telepon dinas, sampai mobil dinas untuk kepentingan pribadi? Pertanyaan kepada pengusaha: sudahkah Anda membayar pajak dengan benar; pernahkah berusaha menyuap pejabat yang Anda berkepentingan dengan usaha Anda?
ARIO SUSMARYONO , Kebayoran Lama, Jakarta, Kompas Surat pembaca, Jumat 8 Januari 2010)
| < Prev | Next > |
|---|














