Tayangan televisi semakin meninggalkan tugas utama sebagai media pencerdas pola pikir, tetapi hanya demi rating dan omzet yang tinggi. Setelah berbagai mimpi diobral lewat acara sinetron, pengelola televisi mencoba kembali merebut pemirsa dengan menjual kebohongan lewat acara yang dibungkus dengan label reality show.
Memprihatinkan, nilai kewajaran dalam tatanan hidup bermasyarakat mulai digeser, bukan hanya pada irama yang wajar, tetapi secara ekstrem telah dipertontonkan ketidakwajaran. Seperti acara debat yang dibawakan oleh Anjasmara dengan label Curhat, yang diperankan oleh aktor-aktor kacangan dan terlihat kurang mampu memerankan secara alami.
Bagaimana bagi orang yang melihat acara tersebut dan mempercayai bahwa acara itu memang nyata? Sedangkan mereka bertingkah di luar kewajaran, bahkan terkesan bertingkah tidak beradab dan merasa sangat hebat. Yang dipertontordam sangat menjijikkan.
Mengherankan, budaya latah dilakukan oleh sebagian besar stasiun televisi dan berlomba membuat acara yang sama. Dengan label reality show berharap menarik perhatian penonton, entah yang berusaha menjual kesedihan orang lain, menjual aib yang didramatisasi berlebihan, mempertontonkan caa yang paling kasar memaki orang, atau menembus batas etika yang wajar.
AGUS EDI SANTOSO, Bogor. Surat Pembaca Kompas Sabtu,26 Desember 2009
| < Prev | Next > |
|---|





