Masuk jam 07.00 saja sudah banyak yang telat, apalagi sepagi itu. Kan tidak semua dari kami rumahnya dekat, banyak lho teman saya yang berangkat dari subuh demi pergi ke sekolah. Setelah sekolah, masih ada les. Pulang les, di rumah masih harus mengerjakan PR dan tugas yang menumpuk dari sekolah. kami hanya punya waktu beristirahat sebentar lalu esoknya kami sudah harus berangkat lagi subuh-subuh.
Awalnya mungkin sebagian besar dari kami sudah banyak yang protes, tapi kami telah lelah membuang waktu hanya untuk protes dan lalu diacuhkan. Masih banyak tugas menumpuk untuk kami kerjakan. Buat apa kalau tidak didengarkan? Sia-sia Malah sekarang mereka memutuskan mempercepat adanya UAN, tetapi kepastiannya saja sampai sekarang masih belum jelas.
Bayangkan saja, kami sekolah dari pagi sekali hingga sore, belum lagi tiap hari kami ada les intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi UAN yang masih belum jelas itu sampai jam 9 malam, terkadang lebih. Belum lagi kami memikirkan nasib kami untuk ujian masuk perguruan tinggi. Tujuan kami tidak cuma satu! kami tersiksa secara mental dan fisik.
Kami yang sekolah rasanya seperti lebih melelahkan daripada orang kantoran. Lho kalo orang kantoran sih jelas, mereka lelah tapi mereka mendapat gaji. Lalu kami? Pengetahuan? Cih, bagaimana mungkin kami bisa mendapat pengetahuan yang baik sedangkan yang mereka kejar adalah kuantitas, bukan kualitas. Kan tidak semua guru dapat mengajar dengan enak dan dimengerti. Padahal mereka meminta standar nilai yang tinggi yaitu 75 untuk kelulusan sebuah pelajaran.
Alhasil kami mendapatkannya dengan menghalalkan segala cara bukan dengan memahami pelajaran itu dengan baik-baik Itu kan yang mereka mau, nilai bagus? Baik, telah kami berikan. Kurang mengalah apa kami kepada pemerintah? Kurang tersiksa apa kami? Kami ingin didengar. Kami bosan menjadi kelinci percobaan. Kami lelah. Tolong dengar suara kami.
Astri Virani M
Jl Otista III Komp 4 H 180
Jakarta
| < Prev | Next > |
|---|





