Editorial kali ini kami ambil dari Koran Tempo Edisi tanggal 6 Maret 2010. Demonstrasi anarkistik yang terjadi di Makassar sangat disesalkan. Mahasiswa yang seharusnya menyuarakan nurani masyarakat, malah menjadi musuh masyarakat. Mereka memblokade jalan dan terlibat perang batu melawan orang-orang kecil, seperti tukang becak dan Sopir angkot. Aksi memalukan ini justru mengundang kebencian sekaligus menggagalkan tujuan demo itu sendiri.
Dipelopori oleh aktivis sejumlah organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Indonesia, unjuk rasa itu sebenarnya bertujuan mulia: mendorong pengusutan kasus Bank Century. Tapi para mahasiswa Makassar bertindak nekat. Mereka menutup jalan-jalan yang menghubungkan Kabupaten Gowa dengan Makassar.
Selama beberapa jam, mahasiswa melarang siapa pun melintasinya. Mereka membakar ban-ban bekas untuk menghalangi warga lewat.
Bisa dibayangkan kerugian ekonomi yang terjadi. Masuk akal jika warga terutama orang kecil tak bisa lagi menahan emosinya. Sopir, pedagang kaki lima, dan tukang becak, mereka yang seharusnya dibela mahasiswa justru bersatu padu melawan mahasiswa. Tak hanya dengan masyarakat, mahasiswa juga bermusuhan dengan polisi. Permusuhan ini meledak dan meluas setelah ada anggapan bahwa kantor HMI di Makassar diserang oleh aparat kepolisian.
Mungkin saja para mahasiswa terprovokasi. Tapi seharusnya mahasiswa tidak gampang terpancing karena yang dirugikan adalah mereka sendiri. Akibat demonstrasi yang anarkistik, tujuan mereka menggelindingkan terus kasus Century justru tak tercapai. Soalnya, masyarakat justru muak melihat aksi brutal yang berlangsung selama berhari-hari itu.
Aktivis mahasiswa mestinya juga mencermati betul isu yang diperjuangkan. Sungguh keliru jika kasus Century dianggap sebagai isu yang benar-benar mewakili kepentingan masyarakat luas. Sebab, isu ini bergulir lebih karena didorong oleh kepentingan para politikus Senayan untuk melengserkan Boediono dan Sri Mulyani. Kedua petinggi ini dinyatakan "bersalah" secara politik, tapi itu belum terbukti secara hukum.
Tidaklah sulit mengharapkan simpati publik jika isu yang digelindingkan mahasiswa menyangkut kepentingan masyarakat luas. Kita jadi ingat "masamasa indah" gerakan mahasiswa diYogyakarta dan Jakarta pada 1998 saat menyerukan penurunan Soeharto. Saat itu mahasiswa dan warga bahu-membahu. Bahkanj diYogya, ibu-ibu secara sukarela menyediakan makanan-minuman gratis di pinggir jalan.
Mahasiswa Makassar harus berintrospeksi. Mestinya mereka sadar, bahwa tindakan anarkistik hanya akan mencoreng gerakan mahasiswa Indonesia. Tugas mahasiswa sebagai kaum intelektual justru mengikis habis budaya kekerasan, bukan melestarikannya. Perlu pula dibuang jauh-jauh kebanggaan konyol bahwa yang membedakan demo di Makassar dengan di kota lainnya adalah keberanian berkelahi.
Rektor universitas - universitas di Makassar juga perlu memikirkan solusi agar para mahasiswa mampu menyalurkan energi dan intelektualitas secara cerdas. Bagaimanapun, anarkisme mahasiswa menunjukkan tanda kegagalan pendidikan tinggi kita.
Catatan Redaksi, Dari pantuan kamera di Televisi kita bisa melihat bahkan Mahasiswa melempari sebuah Ambulance berplat Merah, bayangkan bila Ambulance tersebut sedang dalam perjalanan untuk menolong Pasien yang sedang mengalami keadaan Gawat ?. Sepertinya diperlukan Porsi pendidikan Akhlak yang lebih banyak buat anak anak didik kita ini.
| < Prev | Next > |
|---|














