Akhir – akhir ini kita diingatkan kembali dengan masalah Ujian Nasional, karena beberapa Media baik cetak maupun Elektronik, ramai – ramai memberitakan kemenangan dari gugatan warga Negara atau Citizen Lawsuit terhadap Pemerintah, dimana kemenangan ini mulai dari tingkat Pengadilan Negri sampai dengan Mahkamah Agung. Ujian Nasional sesungguhnya mempunyai 2 sisi baik dan buruk,
SISI BAIK
1. Kita jadi mempunyai standard yang sama untuk kelulusan siswa, sehingga pada akhirnya tidak ada perbedaan antara siswa di Jakarta dan kota kota besar lainnya dengan siswa didaerah.
2. Kelulusan akan menjadi suatu hal yang membanggakan dan suatu hal yang patut disyukuri, karena ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang besar.
3. Pada akhirnya untuk masuk ke Perguruan tinggi cukup menggunakan nilai hasil kelulusan.
4. Dan lain lain.
SISI BURUK
1. Siswa menjadi Depresi dan sangat tertekan karena Ujian Nasional seolah olah tidak bisa diprediksi materi yang akan diujikan
2. Karena Standard pengajaran diseluruh Indonesia berbeda – beda, sesuai dengan kualitas pengajar, tingkat ekonomi didaerah, dan lain lain, maka sulit untuk dilakukan penyeragaman soal ujian. Bayangkan saja sekolah yang berbeda standard pengajarannya dipaksakan harus mengerjakan soal yang sama.
3. Pembuat soal kurang turun ke lapangan, meninjau sekolah sekolah terpencil untuk mengetahui sebaiknya materi Ujian itu sampai tingkat yang bagaimana sih . . .?
4. Di beberapa kasus terjadi kesalahan dari sistim koreksi yang dilakukan untuk menilai hasil ujian Nasional ini, contohnya ada kasus dimana satu sekolah tidak lulus ujian dan selanjutnya dilakukan ujian ulang. Bagaimana Pemerintah bisa yankin bahwa sistim penilaiannya sudah benar ?, seandainya saja pada contoh kasus diatas yang mengalami kesalahan penilaian hanya 11 orang, mungkin ujiannya tidak bisa diulang. Dan jadilah siswa yang apes tadi harus menerima nasib ia tidak lulus ujian.
JADI HARUSNYA BAGAIMANA ?
1. Menurut kami Ujian Nasional dengan penyeragaman soal, baik untuk dilakukan diseluruh Indonesia, namun untuk kelulusan siswa tetap diserahkan pada sekolah masing – masing dengan mempertimbangkan hasil ujian Harian, Tengah Semester dan Semester yang telah dilakukan selama ini. Karena yang benar benar mengetahui kemampuan siswa yang bersangkutan adalah guru guru mereka sendiri.
2. Data hasil dari Ujian Nasional itu menjadi masukan yang baik bagi Pemerintah untuk mengetahui peta keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan diseluruh Indonesia, jadi bisa tahu, mana daerah yang perlu mendapatkan perhatian lebih, atau mana Sekolah yang perlu dievaluasi mutu pendidikkannya.
KENAPA HARUS DEMIKIAN ?
Ya karena beberapa hal misalnya,
Mutu Standard Pendidikan belum merata baik antar sekolah, maupun antar Daerah, untuk itu merupakan tugas Pemerintah melalui Departemen Pendidikan untuk membenahi hal tersebut, emang selama ini kerjanya ngapain . . .?
Alasan lainnya adalah Pemerintah seharusnya tidak terburu buru menerapkan standard yang MUTLAK untuk Ujian Nasional, sebaiknya diberlakukan standard NORMA, yang mempertimbangkan berbagai aspek, belajar toh tidak harus dibangku sekolah, banyak orang yang disekolahnya biasa biasa saja namun setelah Lulus ia menambah pengetahuannya dengan berbagai hal yang menunjang pekerjaannya dan berhasil.
Pemerintah lalu berdalih, lho kan yang diujikan hanya beberapa mata pelajaran saja, kan harusnya tidak sulit . . . ?, kalau tanggapannya seperti itu Ya pemerintah harus konsekwen dong, kalau memang yang diujikan hanya 3 mata pelajaran, misalnya, ya sudah, belajarnya juga dimaksimalkan 3 mata pelajaran itu saja, saat ini anak – anak kalau sekolah tasnya gembol besar sekali karena pelajaran yang harus mereka pelajari banyak sekali, bahkan banyak pelajaran yang dipaksakan untuk dipelajari padahal kayaknya nggak penting, baik untuk bekerja atau lain lain.
Sebagai contoh, ada seorang anak yang ingin jadi Ahli kimia, tapi ia tidak bisa segera mewujudkan keinginannya itu karena tidak lulus ujian Nasional pada mata pelajaran Matematika, di Bab Calculus Diferential. Atau tidak lulus Bahasa Indonesia pada bagian Sinonim. Kan konyol jadinya ?
Lebih parah lagi bila ternyata ada oknum pembuat soal ujian yang merasa seperti pembuat Teka – teki, jadi makin susah dijawab, dia makin bangga karenanya. Kasihan anak – anak jadi korban. Kan bisa saja itu terjadi, banyak yang bilang orang Indonesia (baca “Oknum”) itu, seringkali terlihatnya seperti rendah hati, padahal Arogan. contohnya banyak (kalau dibilang banyak berarti tidak semua) yang sebelum terpilih jadi anggota DPR, wah baik banget seolah olah akan berjuang demi rakyat, namun setelah terpilih . . . eh mengecewakan.
Jadi semoga saja Menteri Pendidikan yang baru, yang sebenarnya berlatar belakang pelaku Akademisi, bisa bertindak lebih arif dan bijaksana, jangan seperti oknum – oknum penjabat yang pada waktu sebelum dipilih kelihatannya baik banget itu tadi, namun setelah dipilih jadi Arogan, dengan senjata Utama . . . . .Pokoknya . . .Pokoknya . . . ingat sesungguhnya Negara ini adalah diberikan oleh Allah SWT untuk seluruh Rakyat Indonesia, maka janganlah anda berperkara dengan Rakyat, bila Rakyat mempunyai alasan yang baik dan jelas.
Wallahu a''lam bishshawab
Syaiful Alamsyah
| < Prev |
|---|





