Home ARTIKEL Cerita WIDHIYANI

WIDHIYANI

PDF
Table of contents
« Prev All Pages Next »
Rumah itu kokoh dan besar dikelilingi halaman yang luas, dibagian depannya berdiri pagar besi setinggi tiga meter, dibagian kiri, kanan dan belakangnya masih terdapat sisa tanah yang dimanfaatkan sebagai taman yang dibatasi tembok setinggi tiga meter terhadap halaman tetangga. Beberapa jendela berteralis terlihat  disana – sini mengapit sebuah pintu utama yang terbuat dari kayu jati.
Rumah berarsitektur Belanda itu bercat putih, bagian bawah tembok bagian luarnya dihiasi dengan ornament batu tempel berwarna hitam kelam. Suasana sekeliling saat itu terasa sunyi dan dingin.
Seorang wanita berdiri dibalik jendela, tangannya memegang teralis didepannya bagai orang dalam penjara, tatapan matanya kosong memandang halaman rumah itu, susasana hatinya saat itu seolah tergambar oleh suasana senja yang sepi,  . . . dingin . . . . . dan duka . . . . .
Andhika tak tahu mengapa ia berada disini, apalagi perlahan – lahan dikejauhan dilihatnya langit menjadi gelap, awan bergulung diikuti angin puting beliung yang berputar kencang, suasana saat itu benar – benar menyeramkan, Andhika berusaha untuk membuka pagar rumah besar itu sekedar ingin ikut berlindung, namun pagar rumah itu sangatlah kokoh dan ia tak bisa membukanya. Angin itu bergerak semakin dekat, . . . Andhika semakin kokoh berpegangan pada pagar besi itu, karena ia tak tahu harus kemana lagi untuk berlindung. Gadis dibalik jendela itu juga terlihat khawatir melihat keadaan Andhika, mulutnya bergerak mengucapkan kata – kata tetapi suara angin yang riuh membuat suaranya tak dapat terdengar oleh Andhika.
Angin itu akhirnya sampai ketempat Andhika berdiri, . . . Andhika berusaha bertahan sekuatnya namun ia akhirnya menyerah oleh tarikan yang amat dahsyat, pandangannya menjadi gelap dan pegangannya mulai terlepas, sayup – sayup terdengar suara seorang wanita memanggilnya, Andhika . . . Andhika . . . . . Andhika . . . !!
Andhika merasa tersedak dan napasnya terasa sesak, ia tersadar dari mimpi yang cukup membuat jantungnya seolah berhenti, saat itu jam dinding dikamarnya masih menunjukkan pukul 02.00 pagi. Benar – benar mimpi yang mendebarkan gumamnya dalam hati, ia lalu meraih segelas air putih di meja kecil disebelah tempat tidurnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia mencoba tidur kembali walaupun agak sulit, karena bagaimanapun mimpi itu terasa begitu nyata, namun ia harus segera bisa beristirahat untuk mempersiapkan diri dalam perjalanan esok pagi ke daerah Cimahi.
Pukul 06.00 Bel berbunyi, Andhika bergegas membuka pintu, terlihat Pak Tikno sopirnya telah berada didepan pagar,
“Pagi pak, . . .” pak Tikno menyapa ramah.
“Pagi, . . . sudah siap pak Tikno, sudah sarapan ?” Andhika bertanya, sambil membukakan pintu pagar.
“Sudah pak, saya sudah sarapan, silahkan kalau bapak mau sarapan dulu, biar mobilnya saya panaskan” jawab pak Tikno sambil menerima kunci dari Andhika.
“Ok, saya habiskan sarapan saya dulu ya . . .?”
“iya pak, silahkan . . .” pak Tikno membungkuk sedikit, sementara Andhika kembali masuk kedalam rumah meneruskan sarapannya lagi.
Tak terasa pukul 08.15 kendaraan mereka telah sampai didaerah Cimahi, perlahan Andhika membuka matanya, dalam perjalanan tadi Andhika lebih banyak tidur dikarenakan masih kurang fit akibat tidurnya terganggu tadi malam.
“Sudah sampai ya pak, . . .” Andhika membuka pembicaraan
“Eh, iya . . .Sudah pak, kita ke kemana dulu pak, . . ?” pak Tikno baru sadar kalau Andhika sudah terbangun.
“Ke arah Cihanjuang saja, ke sekitar lokasi Proyek kita, kita cari kontrakan di sekitar itu biar dekat dengan Proyek, ohya nanti kalau ada yang jual koran tolong belikan koran Pikiran Rakyat pak. Saya mau lihat iklan rumah kontrakan terbitan hari ini”
“Baik pak, . . .” pak Tikno mengarahkan kendaraannya ke arah Cihanjuang.
Walaupun merupakan kota baru, namun aktivitas kota Cimahi cukup ramai saat itu, disana – sini mulai terjadi kemacetan. Andhika kembali membaca daftar rumah kontrakan yang akan didatanginya yang ia kumpulkan dari iklan surat kabar edisi beberapa hari terakhir.
Untuk keperluan pelaksanaan Proyek Konstruksi di Cimahi itu, Andhika memang mendapat tugas dari atasannya untuk mencari rumah kontrakkan disekitar daerah proyek, sebisa mungkin yang mempunyai 4 buah kamar atau lebih, karena staff inti lapangan yang akan ditempatkan disana kurang lebih berjumlah sepuluh orang.
Saat ini jam menunjukkan pukul 13.00 matahari mulai condong ke barat, namun sinarnya masih terasa panas menyengat. Sudah 5 rumah didatangi Andhika, namun belum ada yang cocok, ada yang punya kamar banyak tetapi harganya sangat mahal, tidak masuk dalam anggaran yang hanya 20 juta rupiah pertahun. Ada yang dibawah 15 juta tetapi kamarnya hanya 2 buah.
“Ternyata susah juga ya . . cari kontrakan didaerah Cimahi, harga – harga disini ternyata tidak jauh berbeda dengan di seputaran Jakarta” Andhika berkata pada pak Tikno saat mereka beristirahat di sebuah rumah makan tak jauh dari Cihanjuang.
“Iya pak, saya juga nggak nyangka, bahkan harganya lebih mahal dibandingkan didaerah saya di daerah Bekasi Timur”
“Pak, tolong ambilkan koran hari ini yang tadi kita beli, siapa tahu ada iklan yang baru”
“Baik pak, . . . “ pak Tikno bergegas ke mobil untuk mengambil koran Pikiran Rakyat terbitan hari ini.
Andhika meneliti satu persatu iklan yang dimuat pada hari itu, pandangannya tertuju pada salah satu iklan yang menarik perhatiannya.
DIKONTRAKKAN, RUMAH BESAR, 5 RT, 1 RK, 1 RT, 1 DPR, 1 KP, GARASI, HALAMAN LUAS, SANGAT MURAH, BU. HUB Ronaldi : 0856 888 30 . .
Andhika segera mengontak no yang dimaksud, 15 menit kemudian ia sudah berada didepan rumah yang diiklankan tersebut. Ia merasa kaget karena sepertinya ia mengenal bentuk rumah tersebut, sebuah rumah besar bercat putih dengan halaman yang luas, serta jendela – jendela yang dipasangi teralis yang kokoh, tak salah lagi ini adalah rumah yang ada dalam mimpinya semalam. Ia tak sempat berpikir panjang ketika seseorang dengan kendaraan Vespa menghampiri dan menyapanya.
“Maaf, apa betul dengan pak Andhika . . . ?” pemuda itu menyapanya ramah, sambil mengulurkan tangan.
“Benar, bapak tentunya pak Ronaldi . . .” Andhika berkata sambil menjabat tangan pemuda itu
“Panggil saja Aldi . . . . saya dari Scala Realty yang ditugaskan untuk mengurusi rumah ini pak, mari kita masuk kedalam . . . “ pemuda bernama Aldi itu lalu membuka pagar besi halaman muka dan menuntun kendaraannya masuk kehalaman, Andhika mengikutinya dibelakang.
“Mobilnya dimasukkan saja pak, . . . .” Aldi menambahkan
Andhika segera memerintahkan pak Tikno untuk memasukkan kendaraan mereka ke halaman. Halaman itu begitu luas sehingga bisa menampung beberapa buah mobil sekaligus, dilihat dari rumahnya sepertinya cocok sekali dengan kriteria yang diinginkan hanya saja apakah harganya cocok dengan anggaran yang telah ditetapkan ? Andhika bertanya dalam hati.
“Mari pak, silahkan masuk kedalam . . . “ Aldi mempersilahkan
Rumah itu cukup besar mempunyai 5 buah kamar tidur, 3 buah berukuran 4 x 5 m dengan kamar mandi didalam, sedang yang 2 buah berukuran 3 x 4 m, ruangan lainnya pun besar – besar dengan tinggi langit – langit mencapai 3 m. Beberapa mebel tua menghiasi ruang keluarga dan ruang tamu.
“Maaf pak Aldi, saya bisa pinjam kamar mandinya . . . ?”
“Oh, . . silahkan pak, terserah mau yang mana dikamar depan, di kamar tengah, atau yang di belakang itu” Aldi mempersilahkan.
“Terima kasih, saya ke kamar depan saja . . .” Andhika membuka pintu kamar depan lalu menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Saat masuk kekamar mandi itu, terasa ada hawa dingin ditengkuknya, sesaat bulu kuduknya terasa berdiri, namun Andhika tidak terlalu memperdulikannya, ia berpikir mungkin ini adalah hembusan angin dari jendela bevel yang ada diatas.
Cukup lama Andhika dan Aldi bercakap – cakap di ruang keluarga, Aldi menceritrakan bahwa rumah tersebut memang dibangun pada zaman Belanda sekitar tahun 1930 an, Rumah ini kemudian diwariskan kepada Pak Kartiwa sebelum akhirnya dijual kepada keluarga Drajat Kosasih pada tahun 1970, namun keluarga tersebut lebih memilih menetap di Bandung, dan rumah ini selalu dikontrakkan dari tahun ketahun. Andhika menyimak cerita tersebut dengan seksama.
“Sayang ya pak, kok rumah sebesar ini tidak ditinggali, . . .” Andhika berkata menyelidik.
“Ya . . . maklumlah orang kaya pak, rumahnya dimana – mana, mungkin juga untuk investasi, buktinya daerah Cimahi ini terus berkembang dan menjadi kota Administratif yang mandiri, mungkin bapak sudah berkeliling didaerah ini, silahkan bapak bandingkan, pasti tidak ada rumah sebesar ini yang dikontrakkan dengan harga yang hanya 15 juta pertahun” Aldi menjelaskan dengan gaya khas seorang broker.
Diam – diam Andhika mengiyakan dalam hati, karena sudah seharian ia berkeliling, namun harga rumah kontrakkan yang memiliki kamar lebih dari empat rata – rata ditawarkan diatas 25 juta rupiah pertahunnya. Ia sebenarnya sudah merasa cocok dengan rumah ini dilihat dari kebutuhan perusahaan mereka serta anggaran yang disediakan, apalagi lokasinya cukup dekat dengan proyek yang akan dibangun, namun tentu saja ia harus mencoba untuk menawarnya, siapa tahu bisa.
Disisi lain Aldi yang dapat menangkap kebutuhan Andhika tidak mau bergeming dari harga yang ditawarkan, ia bahkan menambahkan bahwa jika Andhika tidak segera memutuskan, maka kemungkinan besar rumah ini akan diambil penawar lain yang juga dari Jakarta.
Andhika yang memang benar – benar membutuhkan rumah tersebut untuk dijadikan Mess demi kepentingan perusahaannya, akhirnya menyetujui untuk mengontrak rumah tersebut untuk masa sewa 2 tahun sama seperti masa pelaksanaan proyek yang akan dikerjakannya yaitu selama kurang lebih 2 tahun.
Satu minggu kemudian Team Surveyor telah diturunkan kelapangan, terdiri dari 4 orang. Team ini bertugas untuk melakukan pengukuran dilokasi proyek yang akan dikerjakan. Sementara Andhika yang merupakan Manajer Proyek masih berada dikantor pusat Jakarta guna menyusun Tim lainnya yang akan diturunkan secara bertahap kelapangan.
Dua minggu berikutnya Andhika berangkat ke Cimahi untuk memulai aktivitas proyek secara penuh, cukup banyak peralatan dan perlengkapan yang dibawa, seperti komputer, TV, pakaian dan lain – lain. Andhika sudah siap menetap disitu untuk jangka waktu 2 tahun. Memang ada gunanya juga ia masih membujang, pikirnya dalam hati, karena bila ditugaskan seperti ini maka tidak terlalu memberatkan, dan siapa tahu bertemu mojang priangan yang terkenal cantik – cantik.
“Selamat datang pak, . . .” sapa beberapa staffnya yang sedang istirahat siang dirumah besar yang telah dijadikan Mess tempat base camp mereka di Cimahi itu.
“Selamat siang, bagaimana khabarnya, . . . kamar buat saya sudah disiapkan . . . ?” Andhika berkata.
“Baik pak, pekerjaan dilapangan berjalan lancar, . . . ehm . . . kamar buat bapak sudah disiapkan . . . “ pak Dedi kepala Surveyor saling pandang dengan rekannya, yang dipandang juga menunjukkan ekspresi bingung.
“Benar tidak ada masalah dilapangan ?, kalian kok seperti orang bingung begitu ?” Andhika yang menangkap ada sesuatu yang disembunyikan anak buahnya ini bertanya menyelidik.
“Benar pak, kalau di lapangan berjalan lancar, nanti bapak bisa lihat Laporannya.” Pak Dedi menjawab meyakinkan.
“Oke, tolong ada yang bisa bantu pak Tikno menurunkan barang – barang saya untuk dimasukkan ke kamar” Andhika tidak mau memperpanjang kecurigaannya.
Waktu seharian itu dipergunakan Andhika untuk membereskan barang – barangnya dibantu oleh pak Tikno. Pada sore harinya ia berjalan kehalaman belakang sekedar ingin menikmati udara segar dihalaman yang rimbun, namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dua orang office boy.
“Apa pak Andhika tidak marah ya, kalau dikasih kamar depan itu ?” salah seorang berkata pada rekannya.
“Ya enggaklah, bagaimanapun kan kamar depan itu adalah yang paling bagus diantara kamar lainnya, kamar mandinya juga lebih bagus, kalau disuruh pilih sendiri pasti pak Andhika juga memilih kamar yang itu” rekan satunya menjawab.
“Tapi, kan kita tahu kalau kamar itu, . . . “ ia tak meneruskan kata – katanya karena sudah dipotong oleh rekannya.
“Ah, sudahlah . . . nggak usah dipikirkan, itu bukan urusan kita, ayo kita siapkan kopi dan makanan kecil, sebentar lagi tim dari lapangan akan pulang, mereka akan ngomel bila kita belum menyiapkan kopi.” Mereka mengakhiri pembicaraan itu.
Andhika merasa penasaran juga, namun untuk menanyakan langsung kepada mereka ia merasa tidak enak, takut dianggap sebagai atasan yang terlalu mengintimidasi, biarlah ia cari tahu sendiri, apa sebenarnya yang mereka rahasiakan.
Malam itu Andhika memeriksa progress kemajuan proyek, yang ada di mejanya, memang ia melihat sejauh ini tidak ada kendala yang berarti yang ada di lapangan, beberapa masalah sosial lingkungan tentang warga sekitar yang minta diberi pekerjaanpun telah dapat diakomodasi dengan baik oleh staffnya dilapangan.
Andhika baru saja selesai memeriksa seluruh laporan yang ada di mejanya ketika dilihatnya waktu telah menunjukkan pukul 23.30. Seluruh staff proyek telah tertidur lelap, rupanya rasa lelah karena seharian bekerja dilapangan telah membuat mereka segera dapat tertidur. Andhika yang merasakan perutnya lapar melangkah ke dapur untuk mencari makanan kecil, namun ternyata tidak ada makanan yang tersisa, kecuali bahan mentah yang ada di kulkas.
Benar – benar ludes tak bersisa, bisiknya kecewa, namun ia segera teringat diujung jalan terdapat warung yang menjual mie rebus, mudah – mudahan jam segini masih buka, pikirnya. Ia segera bergegas mengambil jaket dan keluar rumah menuju warung itu.
Warung itu sepertinya masih buka, cahaya lampu petromaknya terlihat dari kejauhan. Andhika mempercepat langkahnya kesana. Sesaat kemudian ia sudah berada diwarung sederhana itu, hanya satu orang yang sedang makan disitu. Pemilik warung seorang laki – laki setengah baya terlihat sedang asyik terlibat pembicaraan dengan tamunya.
“khabarnya rumah hantu itu sekarang sudah ada yang menempati ya, . . . ?” pemilik warung berkata pada tamu didepannya.
“Iya saya dengar – dengar sih begitu, . . . “ si tamu berkata sambil menyantap hidangan bubur kacang hijau.
“Wah bisa tahan berapa lama ya mereka . . . ?” pemilik warung itu berkata lagi.
“Nggak tahu juga, . . . . . . eh itu ada yang beli dilayani dulu” si tamu menghentikan pembicaraan karena dilihatnya Andhika masuk dan duduk disitu.
“Malam pak, . . . minta mie rebusnya ada . . ?” Andhika menyapa sambil tersenyum, memotong pembicaraan mereka.
“Oh ada, biasa atau pakai telor ?” pemilik warung bertanya.
“Pakai telor deh pak, . . . minumnya kopi manis saja”
Tak lama kemudian pesanan Andhika sudah siap dan Andhika segera menyantapnya. Kembali pemilik warung meneruskan pembicaraan dengan tamunya yang tadi sempat terhenti karena kedatangan Andhika. Diam – diam Andhika menyimak pembicaran mereka karena pembicaraan itu sangat menarik perhatiannya.
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »
(Page 1 of 3)
 
More articles :

» Fenomena Ponari

Hari ini saat makan siang dikantin Bu Yuni di Food Court kantor Scala Ludia Group, seorang teman menanyakan pendapat saya mengenai Ponari si Dukun Cilik dari Jombang, teman tersebut begitu antusiasnya mengenai hal tersebut.."Bang Al, bagaimana...

» Pudarnya Pesona Cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. “Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu.“Kami...

» KONTROVERSI UJIAN NASIONAL

Akhir – akhir ini kita diingatkan kembali dengan masalah Ujian Nasional, karena beberapa Media baik cetak maupun Elektronik, ramai – ramai memberitakan kemenangan dari gugatan warga Negara atau Citizen Lawsuit  terhadap Pemerintah, dimana...

» Samsung B3210 CorbyTXT

 Mungkin gerah dengan serbuan HP China dengan model Qwerty yang telah mengkoreksi harga - harga HP Branded yang ada, maka kali ini Produsen HP asal Korea Samsung meluncurkan HP Corby TXT B 3210, HP ini di desain untuk menyasar segmen anak muda, dan...

» Beyond B89

Bagi anda yang sangat ingin mempunyai Blackberry Javelin namun mempunyai budget yang terbatas, ada baiknya anda melirik HP Beyond B89 ini. HP dual sim card ini di klaim sangat mirip dengan Blackberry Javelin dan hebatnya sudah dilengkapi dengan...

Add comment

{jcomments on}


Security code
Refresh

Kunjungi juga Website dibawah ini
Banner

12_85a55d2cb282a36fa3b3cf165085171a.jpg

14_719b49854bb2c4da6d06168612ec3255.jpg

15_0f33cda31197e308704c2f6dad3c1c1f.jpg

16_0b43c11daa9b9fc4d76f9709f5f8e77d.jpg

17_3b711f21ff8174bbf07a06458b3e8558.gif

18_997b15eee9b3b7e4b108096cca53c535.jpg

19_30ef6e344de0c197e52eb817dcdf4cfe.jpg

20_d6d10fe367723680868feca223c88897.JPG
Sponsor :
PRIMA ARCHITECTURE
Kami membantu mewujudkan keinginan Anda akan rumah yang ideal. Mulai dari tahap disain arsitektur sampai pelaksanaan fisk bangunan.
MER-C
Kunjungi Website kami, salurkan sumbangan anda di tempat yang tepat
Links :
WISATA HATI
Mari ikutan berdakwah lewat web ini. Salurkan rizki Anda di DDW (Donasi Dakwah lewat Web)
AYO MAKMURKAN MASJID
Jangan biarkan Masjid masjid menangis, ayo kita ramaikan masjid, sekaligus untuk menolak bencana, ikuti komunitasnya di Facebook "Ayo makmurkan Masjid".

Facebook Share

Share on facebook

Donasi lewat PayPal

We have 50 guests online
Link Iklan:
BESELWEB.COM
Mau buat website ?, atau mau belajar membuat website ?, jangan ragu, disini tempatnya, segera kunjungi kami
RAMADHAN.MOBI
HP, Blackberry, iPhone dan iPad Jangan hanya dipakai SMS dan Chatting saja, isi waktu luang anda dengan membaca situs mobile RAMADHAN.MOBI. Semoga bermanfaat, Wassalam
GPSOKE.COM
Sedia CD Installasi Aplikasi GPS untuk HP yang Support GPS seperti Nokia E71, Samsung C6625, dll Hanya Rp 75.000,- saja sudah termasuk ongkos kirim untuk daerah Jawa Bali. keterangan lebih lanjut hubungi : info@gpsoke.com. catatan Aplikasi ini tidak membutuhkan pulsa dalam penggunaannya.

Beselstudio.com

JA slide show