
"Aku takut, sayang" kata Cheryl. Reed Terner mengecup pipi istrinya yang masih muda dan cantik itu. "Mudah-mudahan ciuman ini meneguhkan hatimu. Ricky mungkin telah berubah setelah setahun ini kuliah jauh dari Joyce."
"Oh, Reed, aku tak pernah berpikir untuk menyalahkan ibunya. Joyce tak pernah bersikap seperti seorang mantan istri yang pendendam. JUjur kukatakan, aku tidak melihat joyce menghasut Ricky untuk memusuhiku."
Reed terpaksa menyetujui ucapan Cheryl. "Joyce memang di pihak yang benar, dan Ricky tahu itu. Salahnya, dulu Joyce dan aku merahasiakan ketidaksesuaian kami terhadap Ricky, sehingga Ricky terpukul oleh perceraian kami. Tetapi sekarang mestinya ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan situasi ......
Cheryl menanggapinya dengan seulas senyum. "Aku masih tetap takut kalau mesti menjemput Ricky sendiri. Mungkin dalam perjalanan dari desa kemari tak sepatah kata pun akan keluar dari mulutnya, kalau ia masih menyimpan dendam lama yang membara."
"Sayang, kalau saja aku sempat, akan kujemput sendiri. Tetapi kau kan tahu, rapat panitia turnamen itu mengharuskan aku tetap di sini. Kau pun tahu pentingnya rapat itu."
Rumah penginapan Limberlost di Pegunungan Allegheny dulunya cuma ramai di musim dingin, sebagai penginapan para pemain ski. Namun, Reed melihat kemungkinan untuk memanfaatkannya sepanjang tahun. Ia membeli tempat itu dan melengkapinya dengan lapangan golf, jalan-jalan setapak untuk berkuda, lapangan tenis dan sebuah kolam renang. Rumah penginapan itu sendiri, berupa bangunan batu dan kayu, diperbarui dengan biaya mahal.
Pemandangan dari penginapan di pungggung bukit itu memang indah luar biasa. Menyelenggarakan turnamen besar golf tahunan di Limberlost akan merupakan semacam promosi berarti bagi tempat itu.
A. Mencium ibu tiri
Cheryl ingat, tahun lalu Ricky datang dan tinggal bersama mereka selama dua minggu. Kenangan tentang kunjungan Ricky itu membuat Cheryl merasa hari-hari penuh ketegangan tiada akhir bakal dialaminya lagi.
"Reed, bersikaplah biasa saja bila kau menghadapinya nanti. Tetapi, jangan biarkan juga dia menimbulkan persoalan. Aku tidak mau lagi menghadapi hal-hal tidak menyenangkan selama kunjungannya nanti seperti tahun lalu."
Reed mencoba menjernihkan masalah itu. "Namun, tak semuanya tidak menyenangkan."
"Tidak semuanya? Lupakah kau kalau Ricky pernah mencoba membunuhmu? Anakmu sendiri mencoba membunuhmu!"
"Waktu itu kami sama-sama tidak mampu mengendalikan diri."
"Juga kejadian mengerikan di kamar makan itu. Waktu itu banyak orang mendengar Ricky mengancam hendak membunuhmu."
"Sayang, dia dulu kan masih anak-anak, dan kala itu dia pun sedang menghadapi masa sangat sulit. Sudahlah, tiga perempat jam lagi bus yang ditumpanginya datang. Masih cukup waktu untuk turun menjemputnya."
Reed mencium pipi istrinya, lantas mengantarnya ke jip yang hendak dipakai menjemput Ricky. Meski mencoba membesar-besarkan hati Cheryl, Reed sendiri sebenarnya merasa tidak tenang. Ia mencintai dua-duanya, Ricky maupun Cheryl. Reed cuma bisa menghibur diri, mudah-mudahan dendam Ricky yang menyala-nyala itu paling tidak menunjukkan betapa Ricky begitu penuh perhatian padanya.
Bus terlambat datang dua puluh menit dan itu membuat Cheryl cemas berkepanjangan. Cheryl sadar segalanya akan berawal dari kunjungan Ricky ini. Ketika bus tiba, Cheryl segera pasang senyum, bahkan melambai-lambaikan tangannya meski orang yang dijemput belum tampak batang hidungnya.
Kesan pertama ketika bertemu Ricky: anak itu tampak begitu muda dan menarik. Tampan, badannya tinggi, dan dadanya bidang. Namun, wajahnya sedikit kurus dan tampak lebih dewasa. Sayangnya, wajah itu tampak begitu serius!
"Ricky!" sambut Cheryl. "Senang sekali ketemu kau lagi. Ya, Tuhan, sudah sebesar ini, kau!" Barangkali Cheryl akan terus berbasa-basi, kalau saja ia tidak dibikin terkejut. Sebab, setelah meletakkan tasnya, Ricky memeluk dan mencium pipi ibu tirinya itu. Tadinya Cheryl membayangkan, Ricky akan menyambut dingin kehadirannya dan ia siap menerima sikap itu. Namun, tindakan Ricky tadi justru membuat perasaan Cheryl jadi tidak menentu.
"Hai, sungguh kejutan yang menyenangkan," kata Ricky. "Aku membayangkan ayah yang bakal menjemputku."
"Ayahmu sebenarnya ingin menjemputmu, tetapi ia terikat sebuah pertemuan penting."
Dengan tatapan penuh rasa haru Ricky berkata, "Kau pantas mendapat medali."
"Aku?"
Ricky menatap Cheryl lekat-lekat. "Kita akan selesaikan semua persoalan sekarang. Sepanjang perjalananku kemari, pikiranku terus mengulang-ulang ucapan minta maaf yang akan kusampaikan kepada kau dan ayah. Betapa saya ini anak yang tak tahu diri."
"Kau punya hak sepenuhnya untuk berbuat apa pun sesuai dengan keinginanmu. Jadi, tak ada yang perlu dimaafkan."
Ricky menarik napas lega sambil menghirup udara padang rumput yang segar di musim panas.
Dimasukkannya tas-tas bawaannya ke dalam jip, lalu duduk di samping Cheryl. "Jauh dari rumah selama setahun tentu akan membuat orang jadi berpikir."
"Oh, Ricky, aku senang sekali mendengar kau berkata begitu, dan ayahmu tentu akan bahagia sekali."
Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Cheryl pun berkata, "Bagaimana dengan ibumu?"
"Baik-baik saja. Dia titip salam juga."
"Ibumu baik sekali."
""Yes, dia memang wanita baik."
Walaupun sudah menjadi sekretaris Reed sebelum Reed menjual perusahaan-perusahaan keluarga Terner, Cheryl belum pernah bertemu dengan Joyce, istri pertama Reed. Joyce memang tidak pernah berkunjung ke kantor suaminya.
Cheryl tidak membesar-besarkan ucapannya ketika ia bilang kepada Ricky bahwa Reed akan bahagia sekali bertemu Ricky. Bahkan Reed sempat meneteskan air mata ketika dilihatnya sikap Ricky sudah berubah.
Reed hampir tidak bisa melepaskan anak lelakinya itu dari pelukannya. Makan malam di ruang makan mewah di penginapan menjadi semacam perayaan pesta bagi ketiga orang itu.
Apalagi Ricky pandai membuat suasana menjadi segar dengan cerita-ceritanya tentang betapa sengsaranya mengikuti masa perpeloncoan. "Belajar di kedokteran ternyata tidak mudah," kata Ricky, "meskipun waktu di sekolah menengah dulu aku jagoan kimia dan biologi. Tetapi, rasanya aku bisa mengikutinya."
Reed sendiri bercerita tentang rencana mengembangkan Limberlost. Sementara itu, sambil mendengarkan ayah dan anak bertukar cerita, pandangan mata Cheryl silih berganti menatap mereka. Disimaknya wajah keduanya sambil mencari sampai di mana kemiripan kedua orang itu. Mereka memang dua orang pria gagah dan tampan.
B. Membunuh suami, menjebak anak
Selesai memeriksa bon makan malam dan mengerjakan sedikit lagi tugas-tugas malamnya, Cheryl berjalan melintasi lobi berkarpet tebal ke arah tangga menuju ruang olahraga dan kolam renang. Sambil menundukkan kepalanya ia berjalan di sepanjang lorong di depan kamar-kamar tamu. Ketika sampai di kamar terakhir, ia mengetuk lembut pintu kamar itu setelah merasa yakin tak ada orang disekitar tempat itu.
Seseorang segera menarik lengan Cheryl ketika ia hendak melangkah masuk ke kamar itu. Orang itu adalah Clay Winslow, pelatih ski dan tenis yang juga pekerja apa saja di penginapan itu. Pria itu bertubuh atletis dengan sepasang mata yang senantiasa memancarkan semangat berapi-api.
"Kukira kita akan bertemu saat makan malam," kata Cheryl.
"Aku makan lebih dulu. Pertemuan yang kurang menyenangkan kurasa."
Cheryl menatap Clay dengan air muka kecewa. "Kau keliru. Mestinya kau hadir di sana. Oh, Clay, aku tidak bisa percaya. Ricky sama sekali berubah sekarang. Ia berkali-kali meminta maaf atas perbuatannya tahun lalu. Sekarang kami sudah damai kembali."
Wajah Clay berubah muram. "Kalau begitu bagaimana dengan rencana kita?"
Cheryl hanya mengangkat bahu dan itu hanya membuat Clay marah.
"Kau ini bagaimana," kata Clay.
"Kau bilang anak itu pernah mengancam untuk membunuh ayahnya dan setiap orang mendengarnya. Semua yang harus kita lakukan sudah kita susun: menghabisi suamimu dan menjebak anak itu. Kau bilang, gampang."
"Bagaimana aku tahu kalau Ricky sudah berubah? Waktu itu tingkahnya seperti orang gila. Kau akan tahu, bila saat itu kau ada di sini. Ricky membuat persoalan Sulit."
"Lalu?"
Cheryl tampak berpikir sambil menggigit bibirnya. "Kita tetap pada rencana kita. Kita bunuh Reed dan kita bikin seolah-olah Ricky yang membunuhnya. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa mewarisi kekayaannya. Seorang pemulung tidak berhak atas warisan."
"Namun, sekarang siapa yang bakal percaya kalau anak itu yang membunuh ayahnya?"
"Aku punya ide, tetapi mungkin kau tidak setuju. Aku pernah bercerita padamu, anak itu selalu mengatakan cerita bohong kepada Reed pada musim dingin lalu. Bahkan ia bilang pada anaknya, aku mencoba menggodanya. Ricky melakukan apa saja agar Reed berpihak kepadanya untuk memusuhiku, tetapi dia tidak berhasil. Tetapi, andaikata Ricky menemukan alasan yang bisa dipercaya bahwa aku berbuat seperti yang dia katakan? Apa pun yang diceritakannya, Reed tidak akan percaya?"
Winslow tertawa. "Tolol kalau Reed tak percaya."
Cheryl menatap Clay dengan sengit. "Aku bukan tipe wanita penggoda. Aku tahu ketika Reed menikahiku, ia meninggalkan segalanya pada Ricky. Aku bahagia merebut Reed dan aku pun hidup bersamanya sampai kau datang."
"Kau belum mengatakan idemu tadi."
"Seandainya aku 'main-main' dengan Ricky? Ia pasti akan melapor ke ayahnya, tetapi Reed tak akan percaya. Sebab perubahan hati Ricky menjadi tampak pura-pura saja baginya. Cara ini barangkali dapat kita lakukan untuk mengadu kedua orang itu lagi."
Clay tampak ragu-ragu. "Bagaimana kalau tidak berhasil?"
"Kita coba cara lain. Sekarang kita harus ekstra hati-hati, sayang. Kalau sampai ada yang mencurigai kita ......
"Toh, kabin itu selalu ada," kata Clay mengingatkan, sambil meraih Cheryl ke dalam pelukannya.
"Kita harus bekerja cepat," kata Cheryl. "Waktu kita tinggal dua mingggu."
C. Mulai genit
Cheryl tahu ia tidak dapat dengan serta merta menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ricky. Harus bertahap. Cheryl tersenyum-senyum sendiri. Barangkali lucu. Clay akan membunuhnya andaikata bisa membaca pikirannya. Cheryl adalah sosok wanita yang menyimpan daya pikat kuat bagi pemuda tanggung seperti Ricky. Karena itu Cheryl merasa yakin bisa menggiring Ricky masuk ke dalam perangkap godaannya.
Keberhasilannya memikat ayah Ricky membuktikan hal itu, padahal Reed sudah beristri. Meskipun Reed lebih suka menghabiskan waktunya bersama Ricky, Reed tidak dapat menghabiskan pekerjaannya yang cukup banyak itu. Karena itu tanggung jawab menemani anak lelakinya dipercayakannya kepada Cheryl. Itu berarti tanpa disadarinya Reed ikut membuka peluang bagi Cheryl melaksanakan rencananya.
Pada suatu ketika Cheryl pergi berkuda bersama Ricky. Mereka menyusuri jalan-jalan setapak di kawasan pegunungan itu. Mulanya Cheryl senantiasa menjaga sikapnya. Ia bersikap hati-hati dalam segala tindak langkahnya. Di tengah pembicaraan, bila mereka sedang berdua Cheryl bercerita dengan nada penuh cinta tentang Reed. Juga tentang rencana-rencana yang ingin mereka lakukan bagi Limberlost.
Namun, setelah sekian hari berlalu, dengan cara tidak kentara Cheryl mulai bersikap genit. Ia mulai melepaskan jurus-jurus godaannya dengan senyum-senyum manisnya yang memikat, dengan sentuhan-sentuhan tubuh yang seolah-olah tidak sengaja yang membuat Ricky tak perlu menaruh curiga. Cheryl pun mulai memperlihatkan penyesalannya mengarungi kehidupan perkawinannya bersama Reed.
"Terus terang Ricky, ayahmu sekarang bukan ayahmu yang dulu, ketika aku menjadi sekretarisnya. Aku sungguh tidak bisa menyalahkan ibumu yang merasa diabaikan. Bukan maksudku mau mengatakan, ayahmu juga melalaikan aku. Aku menyadari betapa banyak pekerjaan yang harus ditanganinya, tetapi ia membuatku kesepian. Kedatanganmu membangkitkan suasana lain. Kuharap kau mau tinggal di sini selama musim panas.""
"Rencanaku juga begitu," kata Ricky. "Kau sungguh luar biasa. Tadinya aku khawatir kau akan menghindariku seperti penyakit pes, dan kalaupun kau bersikap begitu, aku tak bisa menyalahkanmu."
Mereka berhenti untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka di tengah hutan pinus yang sejuk. Ketika Cheryl membiarkan Ricky menolongnya naik ke punggung kuda, ia pura-pura terpeleset dan jatuh di pelukan Ricky.
Beberapa saat lamanya Cheryl membiarkan tubuhnya dalam pelukan Ricky, sehingga leher pria muda itu sempat tersentuh napas hangat dari hidung Cheryl. Kemudian, sambil pura-pura mengomeli diri sendiri karena kekikukannya naik punggung kuda Cheryl mencoba lagi. Sepanjang perjalanan pulang, kedua insan itu tak ada yang membuka mulut.
D. Kesepian
Cheryl ragu-ragu ketika malam berikutnya ia mengetuk kamar Ricky. Jangan-jangan Ricky tidak akan mengizinkannya masuk. Ricky cepat-cepat mengenakan jinsnya dan membuka pintu. "Ada apa, Cheryl?"
Ketika melangkah masuk Cheryl bersikap pura-pura bingung. Jari-jari tangannya meraba-raba kerah bajunya yang rendah. "Tidak, tidak ada apa-apa. Aku cuma merasa kesepian. Reed kerja lembur lagi malam ini."
Ricky menutup pintu dengan ragu-ragu. "Kau tampak agak kebingungan."
Tanpa rasa bersalah dan sorot mata yang memperdayakan, dengan tenang Cheryl bicara, "Musim dingin lalu. Apa yang kau katakan kepada ayahmu tentang kita, tidak semuanya bohong. Kau pandai membaca pikiranku."
"Cheryl ......
"Ricky, bukankah dalam hati kecilmu kau pun menginginkannya?"
"Apa maksudmu?"
Cheryl sengaja menatap Ricky dengan tatapan memikat. "Kau tahu maksudku."
Cheryl senang sekali menyaksikan wajah Ricky menampakkan ekspresi yang mencerminkan perang batin dalam hatinya. Namun, Cheryl tahu ia tidak bisa membiarkan sesuatunya berjalan di luar rencananya. Ketika Ricky mendekatinya, Cheryl malah berputar menghindarinya, tetapi kemudian ia berhenti, lalu mengecup lembut bibir anak muda itu. "Aku sekadar ingin tahu di mana sebenarnya kita berdiri. Sebaiknya aku pergi sekarang. Reed mungkin mencari aku. Besok kita bisa mengobrol dalam kabin North Trail itu. Tak akan ada yang melihat kita di sana." Tanpa memberikan kesempatan Ricky bicara, Cheryl membuka pintu lalu pergi.
Kembali ke kamarnya, Cheryl pergi mandi dan mencuci rambut. Ia sedang terbaring sambil membaca majalah di ranjang ketika Reed masuk ke kamar. Cheryl menguap, meregangkan tubuh, lalu bertanya kepada suaminya tentang pekerjaannya.
"Apa yang kau lakukan sepanjang petang tadi?" tanya Reed kemudian.
"Aku baru pulang beberapa jam lalu. Sungguh melelahkan menemani anakmu beberapa hari ini."
"Maafkan aku, sayang. Kau sungguh baik hati. Mulai sekarang kalau ada kesempatan aku akan menemaninya.
"'Bagus. Ia meminta agar aku memaklumi perbuatannya pada musim dingin yang lalu. Sikapnya sungguh menyentuh perasaanku."
E. Mereka bahagia
Pagi harinya Cheryl terbaring di ranjang sambil membayangkan Reed dan Ricky bercakap-cakap di meja makan. Bangun dari tempat tidur ia lalu berdiri di muka cermin. Ia mencoba-coba bagaimana menampilkan air muka yang menunjukkan rasa kecewa. "Oh, sayang," begitu ia akan mengeluh di depan suaminya nanti, "Maksudmu, Ricky berpura-pura selama ini? Sikapnya tidak sungguhsungguh berubah?"
Itulah langkah awal rencana yang akan dimainkannya nanti. Cheryl tersenyum sambil berpikir tentang semua cara yang dilakukan untuk memperkeruh perselisihan antara ayah dan anak itu, dan membuat mereka saling meggunjing satu sama lain. Selesai berdandan Cheryl turun ke lantai bawah.
Clay menghentikan langkah Cheryl, "Bagaimana semalam?".
"Tidak terjadi apa-apa. Aku sudah melakukan sebagian tugasku. Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasilnya."
Clay menatap cemberut ke arah Cheryl. "Mereka berdua tampak bahagia saat makan pagi tadi."
Memang, ketika Cheryl bergabung dengan mereka setelah mereka baru saja menyelesaikan sembilan lubang golf, mereka sangat akrab. Reed memeluk pundak anak lelakinya dengan penuh kasih sayang dan memberi Cheryl sebuah kecupan kilat. "Kau mau ikut berkuda bersama kami nanti sore?" kata Reed kepada Cheryl.
Sementara itu Ricky tampak menghindari setiap tatapan mata Cheryl dan sikapnya cuek. Cheryl menduga Ricky tidak mengatakan sesuatu kepada ayahnya tentang peristiwa tadi malam. Ricky bersikap seolah pria bijaksana. Rencana Cheryl ternyata tidak membawa hasil.
"Terima kasih, aku mau pergi," gumam Cheryl.
Hari-hari berikutnya Ricky tampak ingin menghindari berduaan dengan Cheryl. Apa pun yang mereka lakukan, harus mereka lakukan bertiga.
Hari-hari berlalu dan Cheryl menjadi sangat sedih.
Ya,ya, aku salah," begitu Cheryl mengaku, ketika menemui Clay di dalam kabin dengan puncak sky-lift. "Itu ide yang sangat bagus, tetapi tidak bisa berjalan"
"Jadi, rencana kita itu menemui jalan buntu, anak manis? Kita terus saja bersembunyi-sembunyi seperti ini? Sampai mungkin kau menyatakan aku buang-buang tenaga saja?"
"Jangan tolol. Kita masih punya kesempatan lima hari lagi."
"Untuk melakukan apa lagi?"
Cheryl mengelus dada Clay yang berbulu lebat.
"Gunakan otakmu. Barangkali rencana dulu memang kurang baik. Pengacara yang baik mungkin akan memenangkan anak itu meski rencana kita berhasil."
Namun, mereka harus melakukan sesuatu. Cheryl berpikir sejenak, lantas katanya, "Bagaimana kalau kedua orang itu kita bikin seperti mendapat kecelakaan?"
"Oh, Clay, kau ini bagaimana, sih?"
F. Ibarat main ski
Sehari sekali Clay Winslow turun ke desa di kaki bukit untuk mengambil surat-surat dengan mengendarai jip. Sore itu, di antara surat-surat yang diambilnya terdapat surat untuk Ricky.
"Surat dari Ibu!" teriak Ricky senang sambil merobek sampul surat itu. Waktu itu ia duduk bersama ayahnya di lantai serambi sambil memandangi lembah.
"Semua baik-baik saja di rumah?" tanya Reed setelah Ricky selesai membaca suratnya.
"Yes. Ibu merindukan aku dan berharap aku betah di sini. Ibu juga menanyakan Ayah."
Sambil memegangi bahu anak lelakinya, Reed berkata, "Kau betah di sini bukan?"
"Luar biasa, Ayah tahu sendiri. Sambutan Ayah dan Cheryl sangat menyenangkan."
"Ah, lupakan itu."
Mereka duduk sambil menikmati pemandangan di luar. Kata Ricky kemudian, "Mungkin Ibu menyukai tempat ini."
"la pernah datang ke tempat ini. Aku mengajaknya kemari pada salah satu ulang tahun perkawinan kami. Kukira itulah pertama kali muncul gagasanku untuk membeli tempat ini."
Ricky memandang wajah ayahnya. "Kadang-kadang aku bertanya-tanya, kalau saja Ayah menjual perusahaan itu dulu dan andaikata Ayah punya waktu lebih banyak bersama Ibu dan aku, mungkin kita masih tinggal bersama-sama."
Pandangan Reed menerawang jauh. "Siapa sangka bakal terjadi begini, anakku?"
Ricky melihat nada penyesalan di dalam suara ayahnya. "Tetapi andaikata ayah harus mengulang kembali, apakah Ayah juga tetap akan menikahi Cheryl?"
Rupanya Reed merasa agak jengkel sehingga ia menjawab agak ketus, "Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan macam itu? Semua toh sudah terjadi."
Ricky cepat menjawab, "Aku mengerti semua sudah terjadi dan sekarang kita harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya."
"Aku tidak bilang begitu."
"Aku hanya ingin tahu mengapa hal itu terjadi."
Reed cuma mengangkat bahu, kemudian tangannya menunjukkan ke sisi kanan penginapan itu. Di sana tampak kabel penarik sky-lift punggung hutan pinus. "Kau tahu seperti apa di atas sana itu, bukan? Kau merasa tidak tenang, siap untuk meluncur. Untuk beberapa saat kau merasa takut, hati tidak menentu, dan kau bertanya-tanya apakah kau akan membuat dirimu bodoh atau lebih buruk."
"Namun, kemudian kau mendorong tubuhmu dan terlambat untuk berhenti atau kembali lagi. Lalu, semua yang kau rasakan adalah suatu perasaan gembira yang luar biasa. Begitulah kira-kira yang kualami terhadap Cheryl."
"Apakah ayah pernah punya keinginan untuk berhenti? Atau berbalik lagi?" Reed tidak menjawab. Sambil menepuk-nepuk punggung anak lelakinya, Reed berdiri lalu masuk ke dalam.
G. Suara yang mencurigakan
Claysedang menunggu di dalam kabin ketika Cheryl datang hari berikutnya. Clay tampak senang.
"Kau bilang itu penting," ujar Cheryl.
"Tidak sepenting ini," kata Clay sambil menarik tubuh Cheryl ke pelukannya.
Kata Clay kemudian, "Upaya ini akan merupakan usaha terakhir."
"Apa?""Kecelakaan itu, sayang." Wajah Cheryl yang menjadi merah itu mengarah kepada Clay. "Kau tampaknya sudah berpikir tentang sesuatu!".
"Sesuatu yang sempurna, asal kau melakukan tugasmu."
Cheryl tersenyum. "Tugasku?"
"Tenanglah. Kau harus yakin betul Reed mengantar anaknya dengan mobil ke desa itu untuk pulang ke rumahnya. Kau bisa melakukannya?"
"Ya."
"Aku akan berbuat seolah-olah sibuk, sehingga ia tidak akan meminta tolong padaku."
"Benar, Clay. Reed ingin mengantar Ricky dengan jip itu. Kenapa?"
"Mereka tidak akan pernah sampai di desa itu. Aku menyabot rem mobil itu, sehingga mereka takkan bisa berbelok di tikungan tajam itu. Kemudian jurang yang dalam siap menelan mereka bulat-bulat dan mereka takkan pernah tahu sebabnya."
"Kau yakin bisa melakukan hal itu?"
"Kecilil!" Cheryl menganggukkan kepala dengan bangga. "Aku suka dengan idemu itu."
"Aku sudah menduga, kau akan suka.,,
Tiba-tiba Cheryl mendadak tegang. "Suara apa itu?"
"Mana,?"
Cheryl menatap ke arah jendela yang terbuka. "Aku mendengar sesuatu. Coba tengok di luar."
Clay kembali sambil menyeringai. "Simpanlah kecemasanmu sampai Sabtu nanti. Barangkali cuma seekor kijang."
Namun, Cheryl masih belum lega. "Kadang-kadang aku masih suka waswas, jangan-jangan Reed curiga."
"Bagaimana dia bisa curiga? Bukankah permainan kita selalu rapi?"
"Beberapa hari ini sikapnya tidak seperti biasa."
Clay mengelus pipi Cheryl dengan punggung tangannya. "Mungkin itu cuma perasaanmu."
"Aku sebenarnya tidak mau Reed menyentuhku lagi, tetapi aku berusaha tidak memperlihatkan padanya. Toh tidak akan lama lagi."
"Dua hari lagi, sayang, semua kekayaannya akan menjadi milikmu dan kau akan jadi milikku." Clay mengintip jam tangannya. "Sebaiknya aku pulang dulu. Sudah hampir waktunya untuk mengambil surat-surat." Clay tersenyum. "Aku punya janji dengan Ricky."
"Oh?"
"Ia menyuruhku untuk membeli sesuatu di desa itu. Sebuah hadiah kenang-kenangan untukmu. Bukankah itu menyenangkan?"
"Pergi dari tempat ini adalah hadiah paling baik yang dapat ia berikan padaku."
Ricky yang membawa ransel di punggungnya menghentikan mobil Clay Winslow ketika ia kembali dari desa itu. "Aku lelah sekali, Clay. Boleh aku ikut menumpang?"
"Naiklah," kata Clay. Kemudian sambil menyerahkan barang yang dibelinya kepada Ricky, Clay menambahkan, "Kau beruntung. Ini adalah kotak terakhir yang mereka miliki."
Ricky memasukkan kotak itu ke dalam ranselnya. "Terima kasih. Hadiah ini tidak seberapa, tetapi aku ingat tahun lalu betapa Cheryl menyukai French Cream ini."
Clay tertawa kecil. "Gadis manis di toko itu tadi bertanya untuk siapa permen ini kubeli."
"Lalu, kau bilang kepadanya?"
"Yeah, kubilang permen itu untuk kekasihku."
H. Dapat ide dari lawan
Malam itu Ricky menemui Reed di kantor ayahnya itu yang berdinding papan kayu pinus. diberikannya sebuah bungkusan tipis berisi hadiah ke[ada ayahnya. "Boleh dibuka sekarang kalau mau," kata Ricky.
Wajah Reed menampakkan rasa terkejut bercampur malu saat membuka bingkisan itu. "Oh, bagus sekali. Terima kasih."
Ricky tersenyum. "Aku h tidak bermaksud supaya Ayah menaruhnya di alas meja," ujar Ricky. "Aku tidak bilang pada Ibu kalau aku mencetakk lagi satu untuk Ayah. Aku ingin Ayah melihat betapa Ibu tampak begitu hebat."
Reed menatap dengan cermat foto Ricky bersama ibunya, Joyce. "Ia kelihatan lain. Tampak lebih muda."
""Yes. Kulihat Ibu benar-benar ikhlas meningggalkan Ayah. Penampilannya kini luar biasa. Model rambutnya sekarang lain."
"Itu model yang biasa dipakainya," ujar Reed.
"Kalau aku jadi Ayah, tidak akan kubiarkan Cheryl melihat foto ini. Bisa jadi ia tidak mau mengerti."
Sambil tersenyum Reed memasukkan foto itu ke dalam laci bawah mejanya. "Kau juga akan memberikan sesuatu pada Cheryl? Semacam hadiah atas segala kebaikannya?"
"Akan kukirimkan saja dari rumah," ujar Ricky. "Oh, ya, aku akan membeli satu kaleng French Cream kegemarani Cheryl, tetapi Clay mendahuluiku."
"Clay?" kata Reed tampak tidak mengerti.
"Ya Clay justru membelinya untuk Cheryl."
"Dari mana kau tahu?"
Ricky memandang ayahnya dengan rasa tak bersalah. "Clay sendiri bilang padaku," Ricky tersenyum lebar.
"Hai, Ayah tidak cemburu pada Clay, bukan?"
"Sembarangan kau ini."
"Aku cuma bercanda, Ayah aku melihat kaleng permen itu di dalam jip ketika tadi ia mengantarku. Lalu kutanya untuk siapa permen itu. Jawabnya, Cheryl yang menyuruh dia membelinya."
Sehari sebelum berangkat pulang, Ricky masuk ke kamarnya setelah makan siang dan menulis beberapa kartu pos untuk teman-teman kuliahnya. Bukannya supaya tampak masuk akal, namun barangkali setelah itu bermanfaat kalau ia memiliki bukti bahwa kartu-kartu pos itu akan sampai di kantor pos di desa itu. Ia turun ke lantai bawah sambil membawa kartu-kartu posnya. Ketika itu kira-kira saat Clay akan turun bukit.
Jantung Ricky berdenyut kencang waktu ia melihat jip itu sudah pergi. Kemudian ia mendengar namanya dipanggil dan ketika ia memutar badannya, terlihat ayahnya melambai-lambaikan tangan ke ayahnya. Clay berdiri di samping ayahnya.
"Sebaiknya kau ikut kami Ricky. Seorang tamu kita terlempar jatuh dari kudanya di North Trail. Wanita naas itu barangkali patah kakinya."
Ricky menatap kartu-kartu yang dipegangnya. "Tentu. Aku tadi cuma mau minta tolong Clay membawa kartu-kartu ini ke kantor pos."
Clay menyahut, "Kau terlambat, Ricky. Ny. Terner sudah berangkat menuju kekantor pos. Maaf."
Ricky berdiri memandang ke arah kaki bukit, lalu berbalik mengikuti kedua orang itu, sambil memasukkan kartu-kartu posnya ke saku jaketnya.
Wanita itu rupanya cuma menderita keseleo saja. Reed sungguh merasa prihatin, tetapi ia merasa lega setelah tahu cedera tamu itu tidak terlalu serius. Namun, ketika mereka kembali ke penginapan, rahangnya kembali terkatup erat waktu dua orang pria dan seorang berseragam polisi datang terburu-buru menemui mereka.
"Ayah, ada apa ini?"
Wajah Reed tampak pucat, bibirnya bergetar. "Sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Jip itu ... masuk ke jurang."
"Kau bilang Cheryl ... Ya, Tuhan! Apakah dia ......
"Cheryl meninggal, Ricky," kata Reed dengan suara datar.
Sore itu Ricky masuk ke kamarnya, membuka koper dan memasukkan sesuatu ke dalam sakunya. Kemudian ia mengambil kotak French Cream yang belum terbungkus dan membawanya. Ricky berjalan melewati lorong, naik tangga untuk menuju ke hutan di luar sana. la merasa lega, kecelakaan itu terjadi sesuai dengan rencananya meskipun tadinya Winslow-lah yang dia perkirakan ada dalam jip yang remnya ia buat agar blong itu, bukan Cheryl.
Adalah Winslow yang secara tak sengaja memberinya gagasan tentang penyabotan rem mobil itu. Gagasan itu diperolehnya ketika Ricky diam-diam mengikuti Cheryl menuju kabin, lantas berdiri menguping di luar jendela. Namun, sekarang ia merasa tidak membenci pria itu. Siapa sih yang tidak tergiur bila menghadapi Cheryl? Seperti misalnya ayahnya, dan juga Ricky sendiri. Tadinya ia bermaksud meracuni Cheryl dengan permen yang ia beri racun. Kini permen beracun itu tak berguna lagi.
Jauh ditengah hutan Ricky memendam kotak permen itu bersama botol kecil berisi cairan bening. Kalau dibuang begitu saja takut dimakan bainatang tak berdosa. Racun itu tadinya akan ia taruh di kamar Clay, kini tak perlu lagi.
(Donald Olson, kumpulan cerita kriminal Intisari 1997)
| Next > |
|---|














