
Ada sebuah desa di tepi Sungai Yaqui di Meksiko. Penduduk desa itu percaya bahwa bunga-bunga di sekeliling mereka adalah manifestasi dari roh mereka, jadi mereka sering saling menyapa dengan kalimat: "Haisa sewa?" ("Bagaimana bunganya?")
Suatu hari, setelah hujan lebat, Rafael mengajak adiknya, Mateo, untuk pergi bersamanya ke perbukitan. Di sana terdapat sebuah tempat di mana dua lembah yang curam saling bertemu, dan orang-orang mengatakan bahwa manakala hujan turun, emas terbawa oleh arus air ke tempat ini. "Kita akan jadi kaya!" kata Rafael. "Tetapi kita harus menjadi orang pertama yang tiba di sana." Jadi kedua anak lelaki itu menunggang keledai mereka mendaki bukit.
Perjalanan mereka sulit, lumpur tebal dan dalam, tetapi mereka terus berjuang, dan keteguhan mereka terimbali ketika mereka menemukan sebutir kecil emas di lumpur. Rafael berpaling kepada adiknya dan berkata, "Aku akan mencoba di sini sementara kamu pergi lebih jauh untuk melihat apakah kamu bisa menemukan lebih banyak emas."
Mateo mengagumi kakaknya, jadi tentu saja ia setuju. la melanjutkan perjalanan sampai tiba-tiba ia melihat sesuatu berkilauan di lumpur. Butiran emas yang sangat besar! "Lihat ini!" teriaknya. "Rafael, sebuah bola emas!"
Di bawah sana, Rafael mendengar gema panggilan, dan ia segera naik ke keledainya dan bergegasmenemui adiknya. "Tunjukkan padaku! " teriaknya. "Tunjukkan bola emas itu!" Ketika Mateo menyerahkannya kepadanya, ia sangat gembira.
Penduduk desa mengerti bahwa beberapa orang, orang-orang yang dikenal sebagai Yoeme, memiliki karisma di dalam hatinya, dan Mateo adalah salah di antaranya. Hatinya begitu baik, begitu murni dan ramah, sehingga kebaikan mengikutinya, dan ini memang sifat khasnya.
Tetapi beberapa orang, yang disebut Yori, hanya memendam ketakutan dan kebingungan di dalam hati mereka, dan sayangnya, Rafael adalah salah satunya. Ketika ia melihat adiknya memegang bola emas, hatinya dipenuhi kecemburuan. Mengapa adiknya selalu beruntung? Bagaimana jika adiknya menemukan lebih banyak emas dibandingkan dirinya? la tidak sanggup membayangkannya.
la mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke kepala adiknya. Mateo jatuh ke tanah dan mati.
Rafael mengubur adiknya, menumpuk batu di atas makamnya, melepas keledainya di perbukitan dan pulang ke rumah. Malam itu ayahnya bertanya, "Dimana Mateo?"
Rafael berpura-pura tidak melihat adiknya sepanjang hari, dan ia setuju untuk menemani ayahnya ke perbukitan untuk mencarinya. Setelah beberapa waktu, mereka menemukan keledai Mateo. "Apa yang terjadi dengan anak tercintaku?" tanya ayah, dan ia mulai menangis. Tetapi Rafael meneguhkannya. "Ayo kita lanjutkan. Kita akan menemukannya," katanya.
Malam itu pencarian mereka sia-sia, dan begitu pula keesokan harinya dan keesokannya lagi, mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Mateo. Berbulan-bulan telah berlalu, ketika suatu hari seorang penunggang keledai melewati perbukitan dan menemukan sebatang pohon mesquite yang sudah mati, tonggaknya yang kering dan tinggi mencuat di atas tanah. Pemandangan ini mengejutkannya, karena ia telah berulang kali melewati jalan itu dan ia belum pernah melihatnya. la menggapai untuk menyentuh tonggak kayu itu, dan ketika ia melakukannya, ia mendengar sebuah suara berbisik, "Kakakku membunuhku untuk sebuah bola emas."
Penunggang keledai itu melompat mundur, tetapi ketika ia menyentuhnya lagi, ia mendengar suara itu lagi. "Kakakku membunuhku untuk sebuah bola emas."
Membayangkan bahwa tongkat kayu yang bisa bicara akan dapat menghasilkan uang baginya, ia memotong bagian atas dari tonggak kayu itu dan dengan hati-hati menyimpannya ke dalam tasnya. Kemudian ia menuruni bukit sampai tiba di desa San Marcial.
"Dua koin untuk mendengar tongkatku yang bisa bicara!" teriaknya kepada setiap orang yang lewat. "Dua koin saja!" Orang-orang berkumpul, menertawakan si penunggang keledai. "Bohong," kata mereka, tetapi ketika penunggang keledai menyentuh tongkatnya, tongkat itu mulai bicara, "Kakakku membunuhku untuk sebuah bola emas."
Beberapa orang lari menjauh - tongkat itu membuat mereka takut. Tetapi beberapa lainnya merasa takjub dan menawarkan banyak koin untuk mendengarkan tongkat berbicara.
Hari berikutnya, penunggang keledai itu berangkat ke desa berikutnya, desa Vicam, dan di sana, sekali lagi ia berteriak, "Dua koin untuk mendengar tongkat bicaraku!"
Kali ini para petani berkumpul, dan salah satu di antaranya adalah ayah Mateo. Ketika penunggang keledai meraih tongkatnya, tongkat itu bersuara, "Kakakku membunuhku untuk sebuah bola emas."
Ketika sang ayah mendengar kata-kata itu, ia tahu bahwa ini adalah suara Mateo. "Aku harus mendengarkan dia lagi," teriaknya, dan ia membayar lebih banyak koin. Tidak lama semua pria telah berkumpul, dan mereka memutuskan mereka harus menemukan bola emas.
Jadi semua penduduk dari delapan desa berkumpul, dan mereka memeriksa setiap orang; beginilah mereka menemukan bahwa Rafael memiliki bola emas.
"Kamu membunuh adikmul" tangis ayahnya. "Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu?" Dan tepat pada saat itu, tongkat mulai bicara lagi. "Tempatkan aku di tanah, ayah," katanya. "Kuburkan aku di antara orang-orangku."
Petani melakukan apa yang diperintahkan tongkat kepadanya, dan begitu tongkat dikubur di tanah, bung-bunga mulai bermekaran dimana-mana. Wangi bebungaan itu mengharumi dunia dan mengharuni hati sang ayah.
Sekarang ia tahu ruh Mateo dan keajaiban di dalam hatinya akan tetap tinggal di antara mereka untuk selamanya. Ini jauh lebih baik daripada emas.
( Dongeng Rakyat Meksiko,Media Kawasan Mei 2010, diadaptasi Amy Friedman)
| < Prev | Next > |
|---|














