
Pada suatu masa di sebuah desa di China, seorang pria serakah bernama Fuhua bekerja untuk kaisar sebagai seorang penarik pajak. Fuhua suka sekali mengumpulkan harta sehingga kadang-kadang ia mengubah aturan untuk kepentingannya sendiri. Jadi jika seseorang tidak mempunyai uang untuk membayar pajaknya, Fuhua bisa merampas keretanya atau kambingnya atau kadang-kadang, bahkan rumahnya. la tidak peduli apakah ia membuat orang lain menjadi sangat miskin, dan seringkali ia menggunakan sebagian dari uang yang ia kumpulkan untuk dirinya sendiri.
Keserakahan Fuhua sudah dikenal dengan luas, dan tidak lama kabar tentangnya menyebar dari desa ke desa, sehingga meskipun desa Fuhua sangat indah, tidak seorangpun ingin tinggal di sana. Mereka takut tukang pajak yang jahat itu akan merampas segalanya dari mereka.
Di desa tetangga, hidup seorang pria bernama Minsheng yang mempunyai seorang putera yang pandai bernama Liwei. Keluarga ini miskin, tetapi Minsheng memimpikan puteranya kelak akan menjadi orang yang penting. la mengajar Liwei untuk menjadi orang yang murah hati dan kreatif, dan Liwei tumbuh menjadi seorang pria muda yang balk.
Suatu hari, ia mendengar gosip dari penduduk desa, ia mendengar tentang Fuhua, si pemungut pajak yang serakah, dan Liwei memutuskan ia harus mencari cara untuk mengungkap kejahatan Fuhua dan menghukumnya. Berbulan-bulan ia merenungkan apa yang bisa dilakukannya. la tidak bisa sekedar memberitahu kaisar. Kaisar tidak akan pernah mendengarkan penduduk desa biasa. Bagaimanapun juga, justru inilah sebabnya Fuhua bisa terus melanjutkan apa yang selama ini dilakukannya.
Tidak, Liwei harus lebih cerdik daripada si pemungut pajak. Pada akhirnya muncul sebuah rencana. Di pagi hari, sebelum keluarganya bangun, Liwei pergi ke kebun ayahnya dan menggali sebuah pohon pear kecil yang berdaun hijau mengkilap. Kemudian ia bergegas pergi ke desa Fuhua untuk tiba di rumah Fuhua pada saat ia akan berangkat untuk mengumpulkan pajak.
Ketika Liwei memasuki desa, ia melihat pemungut pajak itu, dan ia mendekatinya serta memperkenalkan diri. "Saya baru saja tiba," katanya kepada Fuhua, "dan apakah tuan bisa memberitahu bagaimana seorang miskin harus membayar pajak di desa kecil ini. Saya kuatir, saya tidak punya uang sama sekali."
"Kamu harus membayar sesuatu," kata Fuhua dengan dingin. "Apa yang kamu punya?"
Liwei memandang pohon pearnya. "Hanya pohon ajaib ini," katanya. "Tidak ada yang lain."
"Ajaib, katamu?" Fuhua senang mendengar kata itu; siapa tahu inilah yang diinginkannya.
"Ini memang ajaib," kata Liwei. "Siapa yang menyentuhkan daun pohon ini ke dahinya akan menjadi tidak kasat mata selama beberapa jam."
"Begitukah?" kata Fuhua, dan ia memandangi pohon serta anak laki-laki itu dari atas ke bawah. "Jika kamu ingin tinggal di sini, kamu harus memberikan pohon itu padaku. Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di sini tanpa membayar sesuatu."
Sebelum Liwei bisa menjawab, si pemungut pajak merampas pohon itu dan bergegas pulang. Di sana, ia memetik sebuah daun dan menyentuhkannya ke dahinya. Kemudian ia berjalan mencari isterinya, yang sedang memasak di dapur.
"Luli, bisakah kamu melihatku?" tanya Fuhua.
Luli menoleh. "Tentu saja bisa," katanya. "Aku tidak buta."
Fuhua segera kembali ke ruangan lain, memetik sebuah daun lain dan menyentuhkannya ke dahinya. Kemudian ia kembali ke dapur. "Sekarang bisakah kamu melihatku?" tanyanya kepada Luli.
la menoleh lagi dan ia mulai kehilangan kesabaran. "Ada apa denganmu? Aku bisa melihatmu dengan sangat jelas. Mengapa saya harus tidak bisa melihatmu?"
Dengan kesal Fuhua berlari kembali ke pohon dan memetik sebuah daun lain, menyentuhkannya ke dahinyadan kembali ke dapur. "Sekarang?" tanyanya.
Luli sudah kesal dengan permainan ini. la memejamkan matanya dan menoleh semaunya. "Tidak," katanya. "Sekarang aku tidak bisa melihatmu!"
Fuhua sangat gembira. la segera berjalan ke alun-alun desa untuk menguji keajaiban pohon barunya. Kemanapun ia berjalan, orang-orang memandang ke arah lain atau menundukkan kepala karena mereka takut pada si pemungut pajak, tidak seorangpun ingin membangkitkan perhatiannya.
"Aku akan mengujinya," pikir Fuhua, dan ia mulai mengambil benda-benda dari pasar, satu buah peach di sini, sebuah permadani di sana, sebuah lampu, sebuah seruling, tetapi tentu saja tidak ada yang berani mengeluh, karena setiap orang yang berani protes akan berisiko mendapatkan kemarahan dan hukuman tambahan darinya.
"Ini mempan!" teriak Fuhua ketika ia berjalan, memimpikan semua kekayaan yang sekarang akan menjadi miliknya. la terus berjalan melewati desa dan ke luar, ke jalan raya, membayangkan keberuntungan yang menantinya di sana. Kebetulan di depannya ia melihat kaisar dan para pengawalnya sedang kembali dari perjalanan berburu. Fuhua melihat banyak bulu dan kulit yang indah menggantung di belakang kereta kaisar, dan matanya bersinar. Ini akan membuatnya kaya. la harus memilikinya.
"Aku tidak kasat mata; aku bisa mengambil segala sesuatu," bisiknya kepada dirinya sendiri, dan dengan begitu ia berlari maju dan menggapai untuk mengambil salah satu kulit hewan.
Salah satu pengawal kaisar melihatnya dan berteriak, "Pencuri, berhenti! Berani sekali kamu mencuri dari kaisar!"
Kaisar menoleh dan melihat Fuhua berdiri di sana, sangat terkejut oleh teriakan penjaga sehingga ia berdiri membeku. la sedang memegangi kulit harimau tutul di tangannya, tidak salah lagi. "Tahan dial" perintah kaisar.
Pengawal mengitari Fuhua dan menyeret lengannya.
"Tunggu, berhenti," kata Fuhua. "Saya bisa menjelaskan. Seorang pria miskin memberi saya sebuah pohon ajaib. la berkata daun-daunnya akan membuat saya tidak kasat mata, tetapi sekarang saya tahu bahwa ia bohong, karena ternyata saya tidak kasat mata ..." dan ia mengangkat daun-daun itu.
"Pria ini gila," kata para pengawal. "Siapa yang pernah mendengar pohon ajaib yang membuat orang bisa menghilang? la tidak bisa menjadi pemungut pajak. la gila!"
Jadi kaisar mencabut jabatan Fuhua, dan Fuhua menghabiskan sisa hidupnya di dalam perasaan malu dan kemiskinan.
Ketika penduduk desa mendengar kecerdasan Liwei, mereka mulai menceritakan kisahnya, dan kisah tentang anak desa yang cerdas ini masih bertahan hingga kini.
(Dongeng Rakyat China, diadaptasi Amy Friedman, Media Kawasan Januari 2010)
| < Prev | Next > |
|---|














