
Alkisah, hidup seorang perempuan belia bernama Mio yang bekerja keras setiap hari selama hidupnya. Mio tidak enggan bekerja, tetapi ia sering berharap kalau saja ia tidak miskin. Suatu hari ia memutuskan untuk berjalan kaki ke Kyoto untuk mengunjungi sebuah kuil Buddha. Di sana ia ingin berdoa. Ketika tiba, ia berlutut dan memejamkan mata dan berdoa,
"Tolong datangkan keberuntungan bagiku."
Dengan mata terpejam, dengan sangat jelas Mio mendengar kata-kata dewi belas kasih. "Beri perhatian, Mio, karena keberuntungan selalu besertamu."
Ketika membuka mata, ia tersenyum, dan ia bersumpah bahwa ia akan memberi perhatian. Kemudian ia meninggalkan kuil dan berjalan pulang.
Ketika berjalan, ia tersandung batu dan terjatuh. la baru saja akan mengutuk nasib buruknya ketika ia ingat kata-kata sang dewi. "Keberuntungan selalu besertamu," bisiknya.
Ketika ia mengucapkan katakata itu, ia melihat sebuah tali jerami tergeletak di tanah.
"Pastilah ini tali keberuntunganku," katanya, dan ia memungutnya. "Ya, aku yakin tali ini akan mendatangkan keberuntungan bagiku. Aku akan merawatnya baik-baik."
Dan begitulah, dengan menggenggam talinya, Mio melanjut berjalan. Tiba-tiba seekor capung dengan sayap yang halus lewat di depan hidungnya. Mio segera meraih dan mengikatnya dengan lembut di ujung tali.
"Pastilah ini capung keberuntungan," katanya perlahan.
Pada saat itu kebetulan lewat seorang perempuan yang menggendong bayi di punggungnya. Ketika bayi itu melihat capung pada tali, ia mulai tertawa gembira, dan ia menunjuk sambil berteriak, "Mama!"
"Kamu mau ini sebagai hadiah?" tanya Mio kepada gadis kecil itu, dan anak itu mengangguk dengan penuh semangat.
"Kamu murah hati sekali," kata ibu anak itu kepada Mio. Perbolehkan aku memberimu tiga jeruk ini sebagai gantinya," dan ia menyerahkan sebuah kantung berisi jeruk kepada Mio.
Mio mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan lalu melanjutkan berjalan.
Tidak lama kemudian, Mio melewati seorang pria lanjut usia. la basah kuyup oleh keringat dan mengeluh perlahan, sambil mengipasi dirinya dengan sehelai kain indah bersulam burung
bangau.
"Ada yang bisa aku bantu?" .anya Mio.
"Aku butuh minum," kata pria itu terengah. "Sepanjang pagi aku di pasar, dan aku sangat haus."
"Aku tidak punya air," kata Mio dengan lembut, "tetapi jeruk-jeruk ini bisa meredakan dahagamu dan juga laparmu," dan ia menyerahkan kantung jeruknya kepadanya.
"Perbolehkan aku memberimu Kain ini sebagai gantinya," kata pria tua itu.
Mio tersenyum. "Kain ini indah sekali," katanya. "Aku sangat berterima kasih padamu, " dan bersama dengan itu ia melanjutkan perjalanan pulangnya.
Tidak lama berselang, Mio bertemu dengan tiga samurai muda. Dua di antaranya berada di atas kuda, tetapi orang ketiga berdiri di sisi seekor kuda yang terbaring di tanah. "Apa yang terjadi?" tanya Mio.
"Kudaku sedang sekarat karena kelelahan," kata samurai ketiga. "Aku harus kembali ke istana, dan aku tidak punya waktu untuk merawatnya, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkannya di sini untuk mati sendirian."
"Biarkan aku merawatnya," kata Mio. "Aku akan memberimu kain ini sebagai ganti untuk kudamu."
"Baik," kata samurai, dan ia naik ke kuda temannya, dan ketiga orang itu pergi ke arah timur.
Mio duduk di sisi kuda dan mengelus menenangkannya. "Jangan mengeluh, temanku. Aku akan berdoa untukmu," dan sepanjang malam Mio berjaga. Dengan lembut ia mengelus perut dan hidung kuda itu, dan ia berjalan ke sungai kecil di dekatnya untuk mengambilkannya air. Kemudian ia memejamkan mata dan berdoa agar kuda itu bisa pulih.
Ketika matahari terbit keesokan paginya, ia terkejut menemukan kudanya meringkik dan kemudian berdiri, sangat kuat dan bugar. Mio naik ke atas kuda, dan sekarang, bukannya berjalan, ia menunggang kuda ke arah barat.
Tidak lama kemudian ia mencapai sebuah kota dan bertemu dengan seorang pria dengan banyak beban di punggungnya.
"Kelihatannya itu sangat berat," kata Mio. "Mengapa anda tidak meletakannya di atas kudaku dan menungganginya pulang?"
Pria itu takjub pada kemurahan hati perempuan muda itu. "Kamu sangat balk. Aku sedang membawa emas raja ke rumahnya. Ayo ikut, agar aku bisa menceritakan kebaikan hatimu padanya."
Mio dan pria itu menaikkan kantung-kantung emas ke atas kuda, dan bersama-sama mereka berjalan ke istana.
Ketika mereka tiba, Mio memandang takjub. la tidak pernah melihat tempat yang begitu indah, dan pada saat itu, pangeran berjalan ke luar.
Begitu ia melihat Mio, ia tahu bahwa ia telah menemukan perempuan impiannya, dan ketika raja mengetahui kemurahan hatinya, ia sangat senang untuk menerimanya di istana.
"Aku telah selalu berharap bahwa puteraku akan menikah dengan seorang gadis yang secantik dan semurah hati sepertimu, Mio," kata raja.
Mio menikah dengan pangeran, dan ia hidup bahagia selamanya. la tidak pernah melupakan tali kecil yang mendatangkan keberuntungan baginya. Sejak hari itu ia selalu waspada untuk mengenali keberuntungan yang bisa didatangkan oleh setiap hal kecil.
(Dongeng Rakyat Jepang, diadaptasi Amy Friedman, Media Kawasan Agustus 2009)
| < Prev | Next > |
|---|














