
"Apa yang dikandung oleh hutan? Tanah, air dan udara murni." Itulah kata-kata yang dipantunkan oleh para gadis ketika mereka berkelana di hutan. Saat itu adalah hari musim dingin yang cerah, dan para gadis itu adalah gadis-gadis dari suku Bishnoi dari India kuno. Pemimpin mereka yang lembut dan penuh keajaiban, Guru Jambheshwar, telah menetapkan 29 prinsip yang harus dijalani oleh rakyatnya, dan di antara keyakinan mereka yang paling penting adalah: Hewan dan pohon adalah keramat.
Jadi, di dunia Bishnoi, rusa dan kijang, banteng dan kerbau, merumput dengan damai. Setiap pohon dipelihara dengan cinta dan kasih, tidak ada yang dihancurkan. Orang-orang hanya menggunakan bagian-bagian yang mereka perlukan dari pohon untuk membangun rumah sederhana mereka, tetapi mereka tidak pernah menebang pohon, jadi hutan sangat lebat dan harum.
"Cintai hewan-hewan terkasih kita, hargai pepohonan. "Rangkul semuanya, maka setiap orang akan hidup dalarn keharmonisan .....
Salah satu dari gadis-gadis yang mencintai hutan itu adalah Amrita Devi. Mungkin lebih dari semua orang di desa, Amrita sangat mencintai pepohonan. Baginya, hutan adalah kehidupan. Sejak saat kecil, ia bangun setiap pagi dan berjalan ke hutan. Di sana ia akan mengunjungi sebuah pohon khusus, teman rahasianya, pohon Khjeri, sebuah pohon berduri yang tidak pernah gugur daunnya dengan cabang-cabang yang ramping dan duri yang mengerucut. Di musim semi, ia dipenuhi bunga kuning kecil, dan di musim panas ia menawarkan keteduhan. Pohon Amrita kokoh dan kuat, ia bisa bertahan terhadap angin yang terpanas, hari yang terkering, dingin yang membekukan. Amrita menyukai daya hidupnya, keindahannya dan kekuatannya.
Seringkali Amrita memeluk batang pohon itu dan berbisik, "Aku akan selalu melindungimu" dan menghirup wangi harem dari kulit kayu dan daun-daunnya.
Amrita setia pada janjinya. Ketika dewasa, ia tetap setia pada pohonnya, dan ketika menikah, ia masih mengunjunginya. Ketika puteriputerinya lahir, ia memperkenalkan setiap anaknya kepada petajaranpelajaran yang telah ia petajari ketika ia masih kanak-kanak. Jadi, Asu, Ratni dan Bhagu bai tumbuh mencintai dan mengagumi pepohonan seperti ibunya.
Seringkati mereka berjalan di hutan dan ibu mereka bernyanyi, "Apa yang dikandung oleh hutan?" dan gadisgadis itu menyanyi menjawab, "Tanah, air dan udara murni."
Amrita meminta gadis-gadisnya untuk memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka kehilangan pepohonan mereka. "Bayangkan panas matahari tanpa peneduh," katanya. "Bayangkan badai yang membutakan tanpa pohon untuk melindungi kita." Gadis-gadis itu menciut memikirkan hal-hal yang mengerikan itu.
Dan suatu hari, Maharajah Abhay Singh, penguasa kerajaan Jodphur, mengirim orang-orangnya untuk menebang pohon-pohon Khjeri untuk membangun istana barunya, karena kayu Khjeri dikenal sebagai kayu terbaik di seluruh negeri. Jadi para pria suruhannya berbaris ke hutan dan mulai menebangi pohon.
Amrita mendengar suara pohon runtuh. la langsung mengumpulkan puteri-puterinya dan sebanyak mungkin orang desa, dan bersama-sama mereka lari ke hutan. "Hentikan!," teriak mereka. "Jangan tebang pohon kami!" Air mata mengalir di mata Amrita, tetapi para serdadu terus menebang, jadi ia memimpin orang-orangnya untuk mengelilingi pohon-pohon, mengitarinya, memegangi teman-teman mereka. Jika para serdadu ingin menebang pohon itu, mereka harus membunuh orang-orang desa.
Karena bingung, para serdadu kembali ke pernimpin mereka untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan ketika Maharajah mendengarnya, ia murka. "Apa maksud kalian? Semua itu adalah pohonku. Aku memiliki kerajaan ini, dan aku akan melakukan apa yang aku maui" la mengumpulkan lebih banyak serdadu, dan bersama-sama mereka pergi ke desa.
Pada saat itu Amrita telah menyebar berita ke seluruh desa, dan segera saja setiap pohon dijaga oleh seorang pria, wanita atau anak dari desa. Setiap orang memeluk sebuah pohon. "Kita tidak akan pernah membiarkan mereka menghancurkan hutan kita!" Amrita menyatakan, dan orang-orang setuju.
Ketika Maharajah melihat pernandangan ini, ia semakin marah, dan berteriak kepada serdadunya, "Tidak peduli, jika mereka harus mati, mereka akan mati!" tetapi ketika ia mengangkat tangan untuk memberi aba-aba agar serdadunya maju, sebuah badai menerpa gurun, mencambuk dirinya, dan menjadi semakin kencang ketika tiba di tempat di mana Amrita dan orang-orangnya berkumpul. Angin ini begitu kencang, para serdadu tidak dapat menahan kampak mereka; mereka bahkan nyaris tidak dapat bertahan berdiri. Tetapi orang-orang Amrita berpegangan pada pohon-pohon mereka.
Badai mengamuk selama berjam-jam, dan ketika mereda, Maharajah memandang keliling dan melihat kerusakan. Rumah-rumah hancur; ladang-ladang kosong rusak berat. Tetapi pohon-pohon itu masih berdiri, kokoh dan kuat. Tiba-tiba ia mengerti betapa pentingnya pohon-pohon itu bagi rakyatnya. la mengerti betapa bijaksananya mereka, dan betapa beraninya, dan ia berjanji bahwa ia tidak akan menebang pohon mereka.
Penduduk desa sangat gembira, dan tempat di mana pohon Amrita tumbuh menjadi sebuah tempat keramat, sebuah tempat yang tidak pernah dilupakan siapapun. Orang-orang mengatakan bahwa ketika angin bertiup dengan cara tertentu, mereka bisa mendengar Amrita dan gadis-gadisnya bernyanyi untuk pohon-pohon terkasihnya.
(Catatan: Pada tahun 1970-an, di India utara, Gerakan Chipko Andolan (Memeluk Pohon) lahir untuk menjaga hutan-hutan setempat. Sekarang ini, dewan-dewan di sebagian besar desa akan berkumpul untuk memutuskan berapa banyak pohon yang boleh ditebang tanpa membahayakan negeri serta penduduknya, dan setiap musim semi, pohon-pohon baru akan ditanam. Dua orang perempuan, Dhoom Singh Negi dan Bachni Devi, bersama rekan-rekan desanya, dikenali sebagai "pemeluk pohon" pertama, dan semboyan mereka adalah: "Apa yang dikandung oleh hutan? Tanah, air dan udara murni.')
(sumber : Dongeng Rakyat India, diadaptasi Amy Friedman, Media Kawasan Juni 2009)
| < Prev | Next > |
|---|





