
Syahdan, pada suatu ketika Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik pergi berburu. Di tengah perburuan, baginda melihat seekor kijang sehingga baginda pun segera melepaskan anjing-anjing miliknya untuk mengejar kijang tersebut.
Ketika sedang asyik mengejar buruannya, tiba-tiba seorang bocah badui penggembala kambing telah terlebih dulu menangkap kijang yang sedang dikejar oleh Khalifah.
Melihat hal itu, khalifah pun segera menghampiri si bocah badui penggembala dan kemudian berkata, "Hai Penggembala! Cepat kau serahkan kijang itu padaku."
Alih-alih takut mendengar ucapan khalifah, bocah penggembala itu mendongakkan kepalanya dan berkata kepada khalifah, "Hai Bodoh! mengapa kau begitu meremehkan bocah seperti aku. Sungguh tingkah lakumu itu adalah tingkah laku seekor keledai yang sama sekali tidak layak dilakukan oleh seorang manusia."
Bagai disambar petir ketika Hisyam mendengar ucapan bocah badui itu. Sang khalifah lalu menghardik si bocah, "Celakalah kau! Apakah kau tidak tahu siapa aku?"
"Aku tentu mengenalmu," ujar si bocah badui, "Kau adalah seorang pandir yang tak tahu sopan santun karena tiba-tiba saja kau datang dan memintaku untuk berbuat ini-itu tanpa mengucapkan salam sedikitpun!".
"Aku adalah Hisyam ibn Abdul Malik!" hardik khalifah.
"Benar!" ujar sang bocah, "Dan aku doakan semoga Allah memutus rahmat-Nya darimu dan mencabut kasih-Nya padamu, karena mulutmu kelewat besar melebihi kemulian yang kau miliki!".
Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik terus berbantah-bantahan dengan bocah penggembala kambing itu hingga seluruh pengawalnya telah berdiri mengelilinginya.
"Cepat kalian tangkap bocah ini!" seru khalifah.
Sesuai dengan perintah khalifah, bocah badui penggembala yang lancang itu akhirnya diseret ke istana.
"Cepat bawa bocah itu kemari!" ujar sang khalifah.
Maka, penggembala yang lugu itu pun dibawa ke hadapan khalifah. Anehnya, ketika bocah badui itu melihat dirinya dikelilingi oleh begitu banyak menteri, pejabat dan pengawal, ia tetap bersikap biasa saja dan sama sekali tidak terusik dengan kehadiran para petinggi itu. Dengan tatapan polos seorang bocah, penggembala badui itu menatap wajah Khalifah Hisyam dengan rasa percaya diri yang tinggi. Tak sedikitpun ia menundukkan kepalanya atau menunjukkan penghormatan yang biasa dilakukan oleh para abdi raja.
Karena tak tahan melihat semua itu, tiba-tiba salah seorang petinggi militer berseru, "Hai, Anak Anjing! Mengapa kau tidak mengucapkan salam kepada baginda khalifah?"
Sontak si bocah badui memalingkan wajahnya ke arah petinggi tersebut seraya berkata, "Hai Keledai! Mengapa aku harus mengucapkan salam kepada si tua bangka itu, padahal kemarin ia sama sekali tidak mau mengucapkan salam padaku."
Khalifah Hisyam tak kuasa menahan amarahnya ketika mendengar dirinya dipermalukan begitu rupa di hadapan para bawahannya, Baginda lalu berkata dengan nada geram, "Hai Anak Sundal! Hari ini tampaknya akan menjadi hari kematiannmu!"
"Tenang-tenanglah, kau Hisyam!" sahut si bocah, "Karena segala sesuatu ada waktunya, Ajalku pun ada waktunya. Jadi, segala kegusaranmu itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku."
Panglima yang tadi menghardik si bocah kembali naik pitam, "Hai Anak Jadah! Sebegitu bejatkah engkau, sehingga engkau berani menimpali semua sabda khalifah junjungan..."
Sebelum sang panglima sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba bocah badui itu telah terlebih dulu memotong ucapan sang panglima, "Hah, rupanya kau sudah benar-benar gila! Semoga saja kau cepat dimasukkan kedalam neraka Wail, Penjilat! Apakah kau tidak pernah mendengar firman Allah yang berbunyi: "...pada suatu hari ketika setiap jiwa datang untuk membantah dirinya sendiri...?"
Khalifah Hisyam tak kuasa lagi menahan amarahnya dan berseru kepada algojonya "Wahai Algojo, cepat kau penggal Kepala bocah lancang ini sekarang juga!"
Maka, seorang algojo bergegas maju mendekati si bocah badui seraya mencabut pedangnya. Dan tanpa diminta, si bocah badui membungkukkan badannya ke arah algojo yang telah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan siap untuk ditebaskan.
Namun, sebelum mengayunkan pedangnya, mendadak si algojo bertanya kepada khalifah, "Wahai Amirul Mukminim, hamba hanyalah seorang abdi yang harus melaksanakan semua perintah Paduka. Tetapi izinkan hamba bertanya apakah kelak hamba tidak akan dituntut oleh Allah atas kematian bocah ini?"
"Tentu tidak," jawab khalifah.
Anehnya, ketika si algojo mendengar jawaban khalifah itu, ia tidak juga mengayunkan pedangnya tetapi justru kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada khalifah.
Dan demikian yang terjadi hingga berulang sampai tiga kali, sehingga si bocah badui menjadi geli sendiri karena mengetahui bahwa algojo yang akan memenggal kepalanya ternyata gentar untuk melaksanakan perintah khalifah.
Mendengar si bocah tertawa, Hisyam semakin kesal dan berkata, "Hai Bocah Tolol! Mengapa kau tertawa-tawa sendiri padahal ajalmu sudah di depan mata?"
"Wahai Amirul Mukminim," jawab bocah itu dengan tenang, "Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa umurku bukan berada sitanganmu. Dan jika kau meminta bantuan seluruh bawahanmu untuk membunuhku maka hal itu akan sia-sia jika memang ajalku belum tiba. Mungkin ada baiknya kau mendengar sebuah syair yang akan aku senandungkan di hadapanmu."
Kemudian bocah penggembala itu pun mulai menyenandungkan sebuah syair:
kudengar ada seekor elang yang berhasil menangkap
Seekor burung kecil yang tidak berdaya
Dalam cengkeraman elang, burung kecil itu berkata
Sementara sang elang terbang tinggi di angkasa
Mengapa kau menangkapku padahal aku takkan mengeyangkanmu,
Dan jika kau memakanku maka hidupku akan jadi percuma
Maka sang elang pun tertawa terbahak-bahak sehingga
Burung kecil itu pun terlepas dan kembali bebas
Khalifah Hisyam pun tersenyum-senyum setelah mendengar syair yang disenandungkan oleh bocah badui itu. Lalu ia berkata, "Demi kedekatanku dengan Rasullullah s.a.w, kalau saja bocah ini menyenandungkan syairnya sejak awal mula pertemuanku dengannya, pasti aku akan dengan senang hati memberikan apapun yang diminta olehnya asalkan ia tidak meminta tahtaku ini."
Khalifah lalu memerintahkan para pengawalnya untuk membebaskan bocah penggembala itu setelah sebelumnya Baginda memberi hadiah yang amat banyak kepada bocah tersebut.
(Hikayat 1001 Malam,Fuad Syaifudin Nur)
| < Prev | Next > |
|---|














